Bunyi di telinga menggema. Teriak gelegar
suara. Keras bagaikan gemuruh yang membakar diri. Emosi tersulut karena
grusak-grusuk perusak indera pendengar. Setiap inchi pergerakan menjadi bahan
cibiran. Setiap jengkal tubuh kita adalah cacat. Setiap sabda yang terucap
adalah dusta. Setiap hembusan napas kita adalah dosa. Semuanya salah. Tak ada
yang benar.
Jengah dengan kondisi mereka yang
tak kunjung lelah mencibir, padahal ludahnya telah berbuih. Ingin saya suruh
mereka untuk enyah, tetapi mereka juga menguntungkan. Setidaknya begini
ceritanya, kita terkenal dan diketahui oleh orang awam dikarenakan ulah mereka. Lidah mereka. Energi yang telah
mereka curahkan pada gulat lidah telah menyebabkan kita dikenal setiap sudut
lautan manusia. Segala penjuru mengetahui kita.
Kita hidup memang begini adanya. Berisik,
namun berirama. Bukan berarti, selalu suram dan bikin gendang telinga sobek. Kita
ini manusia. Manusia yang terdedikasi untuk hidup. Untuk slaing bergantungan
satu sama lain. Apa saja yang kita lakukan harus ada mereka –mereka yang
berisik, maupun tidak. Dan, jangan enyahkan pula konsekuensi dari segala
mobilitas dan movement kita. kurang lebih seperti ini.
Ceritanya, ada seorang anak dan
bapak yang lagi menang lotre. Mereka mendapatkan sebuah hadiah yang cukup
nyentrik pada zaman itu. Mereka mendapat seekor keledai. Untuk menggotong Si Keledai
pulang mereka dihdapkan oleh banak cibiran dari manusia-manusia iri yang tak
tahu diri atau sedang mengalami kejang lidah, sehingga butuh pelemasan jaringan
otot di lidah.
Awalnya, bapak meminta anaknya untuk
menunggangi keledai. Sontak, anaknya menaiki keledai dan Sang Bapak menuntun Si
Keledai. Memang pada dasarnya netizen itu julid, anak dianggap tidak tahu diri
dan tidak menghormati Sang Bapak. Masa anak enak duduk santai kek di pantai,
sedangkan Sang Bapak harus menapaki aspal yang panas. “Gak tahu diri!”, cibir
mereka.
Mendengar ucapan tersebut, anak
jelas tersinggung. Akhirnya, dia meminta Sang Bapak untuk menunggangi keledai
tersebut dan anak yang berjalan. Eh, sekarang malah dibilang bapaknya tega
bener sama anaknya. Masa bapaknya enak naik keledai, anaknya jalan kaki. “Bapak
yang tidak mau berkorban!”
Mereka pun memutuskan untuk menunggangi
keledai secara bersamaan. Bapak di depan, anak mengikuti bapaknya. Cukup tenang
mereka melalui perkampungan tersebut. Kalau memang terdedikasi untuk julid, ya
julid. Mereka dicap tidak punya rasa berperikehewanan. “Tega sekali mereka menunggangi
keledai yang sekecil itu!”
Sudah merasa bosan, akhirnya mereka
memutuskan untuk tidak menunggangi keledai tersebut sama sekali. Mereka berdua
menuntun keledai tersebut secara bersamaan. Namun, pilihan tersebut masih saja
dianggap salah. “Bodohnya mereka. Punya keledai, tetapi tidak dimanfaatkan.”
Well, intinya begitu. Setiap langkah
yang kita ambil selalu dirasa salah oleh mereka yang pada dasarnya tidak suka kita. Bersikap masa bodoh, namun tetap butuh adalah
kuncinya. Why? Tanpa adanya kebulan
asap dari mulut mereka, kia gak bakal dikenal sebagai manusia yang berbeda. Tanamkan
dalam pikiranmu kalau They hate us
because they anus –they ain’t us.
Kita tercipta
untuk saling melengkapi. Mereka adalah sisi gelapmu yang tak harus kamu tutupi.
Karena tanpa adanya gelap tak aka nada terang. Tanpa adanya gelap, bintang tak
akan terlihat berkelip. Berisik? Nikmati saja, diskotik berisik bayarnya mahal.
~Ceritanya lagi menasihati diri sendiri.

