Hujan deras mengguyur kota ini.
Seandainya, aku segera pulang, aku pasti masih bisa bercanda dan tertawa.
Melewati ulang tahunku yang sudah kamu rencanakan jauh-jauh hari. Mencicipi
masakan ibuku yang tiada dua. Hanyut dalam alunan biolamu yang memekakan telingaku,
meskipun sudah setahun kamu mengambil
kursus musik, kamu tak kunjung mahir. Mungkin, kamu memang tidak bakat. Dan,
yang akan selalu aku rindukan adalah mendengarkanmu bercerita tentang temanmu
yang jauh di sana.
Saat kamu bercerita tentang temanmu
itu, kamu seperti tidak memiliki orang lain di dunia ini. Padahal, kamu punya
aku yang bisa mendengarkanmu bercerita
dan datang ke rumah pukul sembilan malam, meskipun hujan lebat saat itu.
Bahkan, aku melupakan ujian Biologi besok. Kamu selalu bersemangat saat namanya
kamu sebut. Matamu begitu berbinar menyilaukan mataku dan kamu seperti memiliki
dua nyawa yang siap untuk dimiliki dua orang sekaligus, dirimu sendiri dan
temanmu itu tadi. Tahukah kamu, akulah yang selalu ada buat kamu apapun yang
terjadi?
Saat ini, saat hujan mengguyur lebih
deras dari 5 menit yang lalu. Aku ingin sekali menghubungimu, tetapi ponselmu
mati. Hanya voice mail yang
terkumandang di seberang sana. Ada apa denganmu? Apa kamu masih marah denganku
karena telah memutuskan sandal jepit seharga setengah jutamu? Atau ini termasuk
rencanamu sebagai kejutan di hari ulang tahunku? Ini misteri bagiku. Kamu yang
menyebabkanku begini, menelponmu sambil berkendara sungguh tak aman.
Tubuhku meringan selepas kamu
mengangkat teleponku. Namun, hujan terlalu keras sehingga kamu tak bisa
mendengar apa yang aku ucapkan. Kamu mungkin hanya merasa bahwa aku sedang
iseng menelponmu, seperti biasanya kamu sudah tahu. Atau kamu memang marah
betul kepadaku?
Gaun hitammu
menyambar kaki meja itu, lalu kaki kekasihku. Gaun yang terakhir kamu pakai 2 tahun lalu. Katamu, gaun ini akan terpakai
pada saat-saat tertentu. Seistimewakah hari ini untukmu? Wajahmu sedikit
berbeda, sedari tadi kamu hanya menggenggam tisu untuk menyeka air di wajahmu.
Entah genting gedung ini bocor, kamu berkeringat, atau kamu menangis?
Pencahayaan
gedung ini tidak cukup terang. Seseorang telah menyeting sedemikian sehingga
menjadi remang-remang. Kamu termasuk orang yang tidak betah dengan sesuatu yang
remang-remang.
“Bisakah kita
menyalakan lampu lebih terang? Terlalu syahdu untukku,” celetukmu.
Beberapa pria
berseragam sedang sibuk mendekor di sana dan di sini, menata bunga-bunga dan
meja kursi berbalut kain satin. Seperti acara pernikahan saja menurutku.
Seseorang berkata padamu bahwa setelan lampu ini sudah yang maksimum, kamu
harus menyewa lampu lebih untuk menjadikan lebih terang. Kamu mengatakan tak
perlu lagi. Apakah gedung ini memang remang-remang atau interior logamnya lah
yang memeberikan sensasi gelap?
Kamu menyambar
segelas air putih di sebelahmu. Kamu menangis. Biasanya akulah yang
menenangkanmu saat menangis, tetapi mengapa kali ini kau tak bisa? Inginku
menyeka air matamu. Ada apa ini? Pria berseragam, tangisan keluargaku, kamu
yang menangis, kekasihku yang terisak-isak, ibuku yang sedari tadi jatuh
bangun, tamu pertama yang hadir, dan detikkan jam tangan. Ini terlalu hening.
Ini misteri. Aku tak suka keduanya.
Kurang dari satu
jam, gedung ini penuh dengan manusia berbaju hitam. Semuanya berkumpul, tanpa
obrolan. Mereka diam. Piano itu, piano itu mengalunkan lagu yang tak aku suka,
“Funeral March”. Aku benci ini. Pianis keparat itu sedang belajar mimik sedih,
mengayunkan jemarinya dengan gesture pelan. Bolehkah aku meminta lagu melayu
kesukaanku? Aku tak suka ini.
Kamu bangkit dari
tempatmu terduduk. Kamu mendatangi sebuah lokasi di gedung itu di mana bunga-bunga
segar tertata apik. Tempat di mana lilin-lilin putih tejejer dan menari
menjilati udara dingin ini. Di mana fotoku terpampang nyata. Dan, aku. Aku di
sana. Bagaimana bisa? Aku terbujur kaku dengan balutan jas lengkap karya
Brutus? Bagaimana bisa? Kamu menangis di samping peti matiku. Aku telah mati.
Kini, aku sadar. Gaunmu yang terpakai hanya saat kamu berkabung. Gaun hitammu.
Terpakai 2 tahun lalu, sepeninggal ayahmu. Aku tersadar mengapa kamu menangis.
Mengapa banyak bunga. Mengapa begitu remang. Mengapa mereka berkumpul, padahal
biasanya mencela. ‘Mengapa’ku telah terjawab.
Aku teringat
kejadian 2 jam yang lalu. Saat kamu melangkah gontai dan air matamu deras
mengalir di pipimu. Kamu memasuki pintu kamar rumah sakit. Tak satu pun yang
menyiapkan semua. Aku pergi tanpa pertanda khusus, tanpa penyakit kronis,
tetapi karena sebuah kecelakaan di malam hari yang memindahkan kamarku ke kasur
rumah sakit, lalu kamar mayat. Kemudian, gedung duka cita ini. Kamu hanya
melihatku sepintas. Napasmu tercekat beberapa detik, lalu kamu berkata llirih
pada dirimu sendiri.
“Dia pulang,”
kamu ucapkan itu untuk meyakinkan dirimu sendiri agar tidak menyusul ibuku
untuk pingsan. Semua orang belum menyadarinya, kecuali kamu, sebelum dokter dan
suster mengumumkan kematian resmiku. Semua orang menangis mengantarku ke gedung
ini, termasuk kamu. Tetapi, matamu terus bertanya. Mengapa sekarang? Mengapa
aku? Tuhan?! Dan, tak ada jawab.
Inginku menyapamu.
Sephia. Sahabatku. Aku baik-baik saja, Sephia. Janganlah menangis. Tak usah
kamu menanti aku. Aku tak akan datang dan mencoba untuk berpaling dari cintamu
tadi. Tak usah kamu merindui aku. Aku sudah menemui Cahaya Surga-ku. Entah
kapan aku dan kamu tak tahu, kamu pasti akan menyusulku. Entah melalui cara apa
caramu kembali, pasti kamu akan kembali. Selamat tidur, Sephia. Selamat
tinggal, kasih yang tak terungkap.
Semoga, kamu lupakan aku cepat. Semoga, kamu
menemukan aku versi yang lain cepat. Aku hanya menyelinap ke ruang sebelah. Aku
menunggumu di tikungan jalan dalam sebuah interval tak terjelang ruang. Aku
akan selalu mendengarkanmu becerita tentang apapun itu. Bahkan, tenatang
temanmu yang berjarak 27 km dari
rumahmu, 47 menit dengan kendaraan bermotor, dan 5 jam berjalan kaki. Padahal, aku sangat membenci itu. Janganlah kamu membenci hari ini. Janganlah kamu membuat prosesi khusus setiap detik, jam, hari, bulan kematianku. Ucapakan hal kecil yang selalu kita gunakan saaat kita berpisah. Selamat tinggal! Sudah cukup sekali saja.




