Di sekitar kita
pasti banyak bermacam-macam, beraneka ragam bentuk, sifat, soliditas,
kepekatan, hingga kerapatan manusia. Mulai dari yang bicara tanpa tedeng
aling-aling, hingga yang Cuma krusak-krusuk bergeming ga jelas sampai-sampai
kita harus mengucapkan “Ha?”, “Gimana?”, atau yang lainnya. Ada juga yang kalau
mengajak berkomunikasi harus face-to-face,
harus kontak mata langsung. Ada juga yang kalau berbicara sambil
beraktivitas. Ada juga kalau lagi ngobrol harus benar-benar diperhatikan, kalau
tidak, dia akan baper. Ngomong kalau dia bukan prioritas atau lainnya. Ada juga
yang suka ngatain, tapi dikatain balik (padahal, bercanda) akan marah. Baper.
Yupss. Jenis seperti ini judulnya mah,
Homo baperensis.
Saya ada orang.
Orang ini unik. Sangat unik. Menyebalkan, tetapi berkat ia saya belajar. Namanya,
Si Antusias. Waktu itu, kita bincang-bincang tentang hal kecil tentang kita.
hal kecil yang sangat sepele. Ia sangat asyik menceritakan hal kecil itu dengan
antusias. Sangat semangat, bahkan berapi-api. Tapi sayang, ia memunculkan api.
Lalu, ada salah satu rekan menanyakan tetang barangnya yang hilang tiba-tiba.
Manusia!! Bila
saja kalian mendapati seseorang yang memberi pengumuman baranghilang, apa yang
akan kalian lakukan? Kalau saya akan berbalik focus ke si pemberi pengumuman
tadi. Secara, dia berada tepat di belakang saya. sontak, saya menoleh kepada Si
Kehilangan. Apa respon Si Antusias yang berbicara dengan saya sebelumnya. Ada
rasa kecewa di matanya. Sekilat, tapi saya tahu bahwa dia tidak bisa diperlakukan
seperti itu.
Si Antusias ingin
diperhatikan. Ingin kita menatap wajahnya saat ia menjelaskan. Si Antusias
berkata kepadea saya.
“Kamu tidak memperhatikan saya. seolah, saya
bukan prioritas.”
What a damn!! Kalian sebal tidak
dikatakan seerti itu. Kalau saya, sebal bukan main. Si Antusias hanya bicara
hal kecil. Sangat kecil. Sedangkan, Si Kehilangan sedang bimbang mencari
kepunyaannya yang terselip entah di mana ia tak tahu.
“Kamu
tuh ya!! Baperan!!”
Pedes yaa. Saya
langsung berkata itu pada Si Antusias. Saya memang begitu kalau bicara. Kalau
kata orang, ga pernah mikir, pedas. Saya bicara apa adanya, kalau kamu begitu
saya akan bilang kamu itu begitu, bukan mengindahkan kamu dengan bilang, “Kalau
kamu itu begini looo, jadinya aku bisa suka.”
Ayahku
mengajarkan aku untuk tidak basa-basi. Lama. Membuat kita muak dan terlihat
seolah kamu itu sedang cari muka. Intinya gitu deh. Cerita berlanjut. Dengan
gaya saya yang sok bijak, saya menasehati dia seolah saya tahu asam garam
kehidupan dan cara manggulanginya.
“Terkadang ya. Kamu tuh harus bersikap semua
itu biasa. Act as if it commonly happened. Tidak semua hal bisa dimasukkan ke
hati. Kamu harus latihan unutuk berubah.”
Si Antusias pun
menjawab. Dan, jawabannya ini yang membuat saya berpikir.
“Kamu jangan bicara bahwa orang itu gampang
baper. Kata baper itu juga yang membuat seseorang lupa untuk minta maaf.”
What the hack!!Perasaan saya. saya ga
pernah minta maaf, kalau setelah bicara. Begitupun dengan Si Antusias, dengan
yang lainnya. Tak ada adat meminta maaf di sini. Semua bicara biasa saja.
Berperilaku biasa. Karena apa? Mereka berpikir orang lain adalah mereka. Mereka
yang biasa saja diperlakukan yang tidak biasa.
Sejak itu saya
berpikir. Harusnya, saya ga bilang seperti itu. Saya merasa skeptic. Saya
dongkol. Saya berpikir, hingga saya menemukan bintang jawaban. Saya tidak bisa
meminta Si Antusias berubah. Itu hanya membuatnya semakin tidak suka dengan
saya. yang bisa saya pinta yaaa, diri saya sendiri.
Saya harus bisa
bersikap fleksibel. Bagaimana saya harus berinteraksi dengan Si Antusias, Si
Krusak-Krusuk, Si Nyablak, dan Si Si yang lain. Saya harus beradaptasi dengan
manusia, bukan hanya dengan alam. Semua orang berbeda, Bung. Karena mereka bukan
robot yang diprogram.
Kaktus saja
beradaptasi dengan menumbuhkan duri. Cicak pun memutuskan ekornya. Kalau
saya? Saya harus memasang duri di hati
saya saat dicekoki muntahan cemooh orang, tetapi saya juga harus rela
memutuskan ego saat menghadapi Homo
Baperian. Intinya, bentengi diri kita dengan Konsep Adaptasi Interaksi agar
kita bisa hidup dengan selaras, harmonis, sejalan, dan sepikiran.
~Thanks for The Enthusiast

