Pages

Do Not Say "DONT!"



Di sekitar kita pasti banyak bermacam-macam, beraneka ragam bentuk, sifat, soliditas, kepekatan, hingga kerapatan manusia. Mulai dari yang bicara tanpa tedeng aling-aling, hingga yang Cuma krusak-krusuk bergeming ga jelas sampai-sampai kita harus mengucapkan “Ha?”, “Gimana?”, atau yang lainnya. Ada juga yang kalau mengajak berkomunikasi harus face-to-face, harus kontak mata langsung. Ada juga yang kalau berbicara sambil beraktivitas. Ada juga kalau lagi ngobrol harus benar-benar diperhatikan, kalau tidak, dia akan baper. Ngomong kalau dia bukan prioritas atau lainnya. Ada juga yang suka ngatain, tapi dikatain balik (padahal, bercanda) akan marah. Baper. Yupss. Jenis seperti ini judulnya mah, Homo baperensis.

Saya ada orang. Orang ini unik. Sangat unik. Menyebalkan, tetapi berkat ia saya belajar. Namanya, Si Antusias. Waktu itu, kita bincang-bincang tentang hal kecil tentang kita. hal kecil yang sangat sepele. Ia sangat asyik menceritakan hal kecil itu dengan antusias. Sangat semangat, bahkan berapi-api. Tapi sayang, ia memunculkan api. Lalu, ada salah satu rekan menanyakan tetang barangnya yang hilang tiba-tiba.

Manusia!! Bila saja kalian mendapati seseorang yang memberi pengumuman baranghilang, apa yang akan kalian lakukan? Kalau saya akan berbalik focus ke si pemberi pengumuman tadi. Secara, dia berada tepat di belakang saya. sontak, saya menoleh kepada Si Kehilangan. Apa respon Si Antusias yang berbicara dengan saya sebelumnya. Ada rasa kecewa di matanya. Sekilat, tapi saya tahu bahwa dia tidak bisa diperlakukan seperti itu.

Si Antusias ingin diperhatikan. Ingin kita menatap wajahnya saat ia menjelaskan. Si Antusias berkata kepadea saya.

“Kamu tidak memperhatikan saya. seolah, saya bukan prioritas.”

What a damn!! Kalian sebal tidak dikatakan seerti itu. Kalau saya, sebal bukan main. Si Antusias hanya bicara hal kecil. Sangat kecil. Sedangkan, Si Kehilangan sedang bimbang mencari kepunyaannya yang terselip entah di mana ia tak tahu.

“Kamu tuh ya!! Baperan!!”

Pedes yaa. Saya langsung berkata itu pada Si Antusias. Saya memang begitu kalau bicara. Kalau kata orang, ga pernah mikir, pedas. Saya bicara apa adanya, kalau kamu begitu saya akan bilang kamu itu begitu, bukan mengindahkan kamu dengan bilang, “Kalau kamu itu begini looo, jadinya aku bisa suka.”

Ayahku mengajarkan aku untuk tidak basa-basi. Lama. Membuat kita muak dan terlihat seolah kamu itu sedang cari muka. Intinya gitu deh. Cerita berlanjut. Dengan gaya saya yang sok bijak, saya menasehati dia seolah saya tahu asam garam kehidupan dan cara manggulanginya.

“Terkadang ya. Kamu tuh harus bersikap semua itu biasa. Act as if it commonly happened. Tidak semua hal bisa dimasukkan ke hati. Kamu harus latihan unutuk berubah.”

Si Antusias pun menjawab. Dan, jawabannya ini yang membuat saya berpikir.

“Kamu jangan bicara bahwa orang itu gampang baper. Kata baper itu juga yang membuat seseorang lupa untuk minta maaf.”

What the hack!!Perasaan saya. saya ga pernah minta maaf, kalau setelah bicara. Begitupun dengan Si Antusias, dengan yang lainnya. Tak ada adat meminta maaf di sini. Semua bicara biasa saja. Berperilaku biasa. Karena apa? Mereka berpikir orang lain adalah mereka. Mereka yang biasa saja diperlakukan yang tidak biasa.

Sejak itu saya berpikir. Harusnya, saya ga bilang seperti itu. Saya merasa skeptic. Saya dongkol. Saya berpikir, hingga saya menemukan bintang jawaban. Saya tidak bisa meminta Si Antusias berubah. Itu hanya membuatnya semakin tidak suka dengan saya. yang bisa saya pinta yaaa, diri saya sendiri.

Saya harus bisa bersikap fleksibel. Bagaimana saya harus berinteraksi dengan Si Antusias, Si Krusak-Krusuk, Si Nyablak, dan Si Si yang lain. Saya harus beradaptasi dengan manusia, bukan hanya dengan alam. Semua orang berbeda, Bung. Karena mereka bukan robot yang   diprogram.

Kaktus saja beradaptasi dengan menumbuhkan duri. Cicak pun memutuskan ekornya. Kalau saya?  Saya harus memasang duri di hati saya saat dicekoki muntahan cemooh orang, tetapi saya juga harus rela memutuskan ego saat menghadapi Homo Baperian. Intinya, bentengi diri kita dengan Konsep Adaptasi Interaksi agar kita bisa hidup dengan selaras, harmonis, sejalan, dan sepikiran.

~Thanks for The Enthusiast


1

Ujaran Kebencian


Cukup lama saya tidak melanjutkan tulisan saya karena beberapa alasan yang mengikat. Mungkin lebih tepatnya saya belum menemukan bintang inspirasi saya. Biasanya, saya mendapatkan bintang itu di saat saya benar-benar mengalami suatu hal yang bisa membuat saya berpikir pada saat apapun. Tetapi, kali inisaya belajar tentang diri saya sendiri. Saya berpikir mengapa mereka begini. Salahkah saya?

Keegoisan menuntun saya pada pemikiran bahwa saya adalah mahabenar. Semua tatanan yang terwujud atas rasa cinta, percaya, dan hidup bersama hilang dalam hitungan ego yang tak masuk akal. Saya menyalahkan semua orang atas ketidakmengertian mereka terhadap saya. Saya mengaggap semua orang membenci saya hanya karena mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Di kesibukan mereka, mereka melihat tugas tersebut seperti melalui corong  terfokus hingga lupa bahawa saya ada. Tidak  bergunakah saya?

Sekarang bukan saatnya bicara berguna atau tidak, tetapi bersediakah? Bersediakah saya hadir di saat mereka  menggadaikan waktu senggang saya untuk menorehkan tinta keberhasilan bersama? Sayangnya, saya tidak bersedia. Amarah terlanjur menutupi mata batin saya. Cemooh terlanjur melukai gendang telinga saya. Hingga saya tak mampu mendengar, bahwa mereka menjerit minta tolong, tetapi saya tetap tidak peduli.

“Kalian jahat. Kalian tak pernah mengharagi saya. kalian hanya memikirkan kalian.kalian hanya mengahragai diri kalian masing-masing. Yang di pikiran kalian hanya kemaslahatan kalian, bukan kita.”

Kata-kata itu kian mengisi sekat-sekat otak saya yang dulu terisi tawa kita. Sekat-sekat merah muda segar itu pun menjelma menjadi sekat-sekat hitam kelam dan berbau. Saya skeptik. Saya tidak tahu harus apa. Haruskah saya ikut melukiskan di dinding masa depan kita atau memilih utnuk menghindar?

Jika saya menanyakan ini  kepada ego, ego akan meminta saya untuk tidak usah ikut perduli dengan mereka. Buat apa? Hadir hanya untuk dijadikan pelampiasan. Hanya dijadikan sampah yang ingin dibuang tapi enggan. Saya hanya kerikil tajam yang harus dibuang, hanya mampu merusak banperjalanan mereka.

Tetapi, saat saya mencoba mengingat apa yang telah mereka lakukan untuk saya, saya terbangun dari hipnotis Si Ego. Saya teringat bahwa merekalah yang sudi membenci, sekaligus mencinta. Kehadiran saya untuk kali kedua ini, menghantarkan saya pada satu panggilan saya yang  familiar. Suara cempreng, namun penuh ketulusan dan kasih sayang. Membuat saya tak sanggup menatap mata sang empunya lebih dari dua detik. Gurauan dan candaan mereka tetaplah sama seperti dahulu, tak ada yang berubah. Saya yang berubah, saya yang menghindar.

Saya memang marah. Tepatnya, marah kepada diri saya sendiri. Saya tidak bisa beradaptasi seperti kalian pada satu sama lain. Saya masih terlalu manja dan goblog untuk ini. “Saya hanya benci tanganmu, tapi saya ikut membenci seluruh tubuhmu,”

Saya tidak bisa memaafkan diri saya, sehingga saya melampiaskan itu pada mereka. Mereka jelas tidak tahu itu karena saya tidak cerita. Mereka sedang sibuk, saya harus tahu. Saya harus beradaptasi, bahkan berevolusi. Saya tidak ingin dianggap manja atau tidak kekeluargaan. Saya tidak manja dan saya tidak minta. Saya hanya ingin ini semua tetap ekuilibrium, jangan pernah goyah lagi, meskipun lidah terus menancapkan belati.

LOve yoU
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com