Pages

Duniaku Berisik


Bunyi di telinga menggema. Teriak gelegar suara. Keras bagaikan gemuruh yang membakar diri. Emosi tersulut karena grusak-grusuk perusak indera pendengar. Setiap inchi pergerakan menjadi bahan cibiran. Setiap jengkal tubuh kita adalah cacat. Setiap sabda yang terucap adalah dusta. Setiap hembusan napas kita adalah dosa. Semuanya salah. Tak ada yang benar.

Jengah dengan kondisi mereka yang tak kunjung lelah mencibir, padahal ludahnya telah berbuih. Ingin saya suruh mereka untuk enyah, tetapi mereka juga menguntungkan. Setidaknya begini ceritanya, kita terkenal dan diketahui oleh orang awam dikarenakan  ulah mereka. Lidah mereka. Energi yang telah mereka curahkan pada gulat lidah telah menyebabkan kita dikenal setiap sudut lautan manusia. Segala penjuru mengetahui kita.

Kita hidup memang begini adanya. Berisik, namun berirama. Bukan berarti, selalu suram dan bikin gendang telinga sobek. Kita ini manusia. Manusia yang terdedikasi untuk hidup. Untuk slaing bergantungan satu sama lain. Apa saja yang kita lakukan harus ada mereka –mereka yang berisik, maupun tidak. Dan, jangan enyahkan pula konsekuensi dari segala mobilitas dan movement  kita. kurang lebih seperti ini.

Ceritanya, ada seorang anak dan bapak yang lagi menang lotre. Mereka mendapatkan sebuah hadiah yang cukup nyentrik pada zaman itu. Mereka mendapat seekor keledai. Untuk menggotong Si Keledai pulang mereka dihdapkan oleh banak cibiran dari manusia-manusia iri yang tak tahu diri atau sedang mengalami kejang lidah, sehingga butuh pelemasan jaringan otot di lidah.

Awalnya, bapak meminta anaknya untuk menunggangi keledai. Sontak, anaknya menaiki keledai dan Sang Bapak menuntun Si Keledai. Memang pada dasarnya netizen itu julid, anak dianggap tidak tahu diri dan tidak menghormati Sang Bapak. Masa anak enak duduk santai kek di pantai, sedangkan Sang Bapak harus menapaki aspal yang panas. “Gak tahu diri!”, cibir mereka.

Mendengar ucapan tersebut, anak jelas tersinggung. Akhirnya, dia meminta Sang Bapak untuk menunggangi keledai tersebut dan anak yang berjalan. Eh, sekarang malah dibilang bapaknya tega bener sama anaknya. Masa bapaknya enak naik keledai, anaknya jalan kaki. “Bapak yang tidak mau berkorban!”

Mereka pun memutuskan untuk menunggangi keledai secara bersamaan. Bapak di depan, anak mengikuti bapaknya. Cukup tenang mereka melalui perkampungan tersebut. Kalau memang terdedikasi untuk julid, ya julid. Mereka dicap tidak punya rasa berperikehewanan. “Tega sekali mereka menunggangi keledai yang sekecil itu!”

Sudah merasa bosan, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menunggangi keledai tersebut sama sekali. Mereka berdua menuntun keledai tersebut secara bersamaan. Namun, pilihan tersebut masih saja dianggap salah. “Bodohnya mereka. Punya keledai, tetapi tidak dimanfaatkan.”

Well, intinya begitu. Setiap langkah yang kita ambil selalu dirasa salah oleh mereka yang pada dasarnya tidak suka kita.  Bersikap masa bodoh, namun tetap butuh adalah kuncinya. Why? Tanpa adanya kebulan asap dari mulut mereka, kia gak bakal dikenal sebagai manusia yang berbeda. Tanamkan dalam pikiranmu kalau They hate us because they anus –they ain’t us.

Kita tercipta untuk saling melengkapi. Mereka adalah sisi gelapmu yang tak harus kamu tutupi. Karena tanpa adanya gelap tak aka nada terang. Tanpa adanya gelap, bintang tak akan terlihat berkelip. Berisik? Nikmati saja, diskotik berisik bayarnya mahal.

~Ceritanya lagi menasihati diri sendiri.
0

Rahasiaku, Rahasia Tuhan, Rahasia Malaikat-Nya

"I've broken free from this memory. I've let it go" ~ Avril Lavigne

Kagum menjadi salah satu definisi saya tentang ‘terlalu’ mengetahui seseorang. Maksud saya, kita bisa dikategorikan kagum terhadap seseorang apabila kita tahu siapa orang itu, bagaimana dia, dan suatu gebrakan yang dia lakukan sehingga membuat kita terkesima. Mungkin pola pikirnya, cara bicaranya, kegiatannya, jabatannya, dsb.

Mengagumi seseorang tidak serta merta harus memproklamirkan kekaguman kita. Kita tidak diharuskan terang-terangan tentang perasaan kita. Dalam mengagumi seseorang, kita biasanya mengategorikan mana yang pantas untuk diketahui orang lain atau hanya kita saja yang perlu tahu. Bila kita merasa cukup kita yang tahu, kita akan tiba pada saat di mana ketika kita melihat orang tersebut kita akan melongo dan menatapnya sekian detik hingga kita sadar bahwa liur kita sudah menetes tanpa perlu memberitakan kehadiran orang itu kepad teman atau kerabat kita.

Secret admirer. Secret admirer bukan lagi menjadi kata asing di telinga kita. Secret admirer didefinisikan sebagai pemuja rahasia. Secara harfiah memang begitu. Jadi, menurut definisi secara mendalam, saya tidak sudi membahas lagi.

Menjadi secret admirer memang menjadi tantangan bagi saya. Di situ, saya merasa dituntut untuk memahami seseorang tanpa harus bertanya sebanyaknya-banyaknya. Saya hanya perlu mengobservasi setiap inchi pergerakan yang dialaminya. Terkadang, saya juga bisa mengambil hikmah di situ. Apa saja yang baik dari, saya ambil dan saya telaah lagi. Mungkin bisa menjadi reflektor untuk diri saya.

Menjadi secret admirer memberikan saya esensi menegangkan dari senam jantung. Di mana di saat saya harus mengamati orang terpuja, saya terpergok sedang mengamatinya. Memang memalukan. Bila sudah mengalami kejadian tersebut, biasanya saya langsung pasang wajah bloon dan hempas entah berantah.

Namun, menjadi secret admirer tidak serta merta memberikan rasa senang pada diri saya. Terkadang, bahkan biasanya kita harus dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak bisa melebihi batas ini. Saya tidak bisa menapaki karier saya terhadap dia yang lebih tinggi. Kasarnya, saya mentok. Saya harus bisa menerima bahwa dia tidak mengetahui peran saya. Saya harus berlapang dada bila dia tidak membalas apa yang telah saya lakukan pada dia. Karena ini tugas rahasia, antara saya, Tuhan, dan malaikat-Nya.

Ada kalanya, saya mungkin merasakan bahwa saya tidak hanya kagum. Saya sudah terlampau jauh dari ini. Saya mengatakan kepada orang-orang bahwa dia hebat, taka da cacar sedikit pun. Saya selalu bersemangat bila forum tentang dia telah dibuka. Selalu saja setiap saya menyebut namanya seperti nyawa saya ada dua. Begitu kata saya. Laksana kerdil saya memalu karena menatap dia dua inchi lebih dalam. Menyirami diri agar merebah. Sudah sampailah saya pada sisi gelapnya.

Ini adalah dendam yang tak terucap. Mengapa? Dendam bukan selalu berarti sesuatu hal yang buruk untuk dibalaskan, tetapi sesuatu yang harusnya dibalaskan. Dendam yang harusnya dia berikan kepada saya tak pernah ia ucapkan, bahkan hanya dalam sebuah pesan singkat. Padahal, saya sudah mengirimkan sejuta rangsang agar dia betapa dalamnya saya mengetahui seluk beluk, palung, dan jurang jiwanya. Haruskah saya marah ataupun menyesali ini semua?

Ini adalah rahasia yang tak terungkap. Jawaban yang cukup untuk menepis semua tanda Tanya atas emosi yangharusnya meluap ke permukaan. Pertanyaan yang serta-merta saya ciptakan sendiri sekaligus jawabnya. Semuanya terjawab tak perlu waktu. Semua jawab sudah terbentuk sejak kaki saya melangkah dengan mantap menuju subjek bernama secret admirer. Rahasia yang tak diketahui oleh manusia manapun, kecuali saya. Rahasia yang harus saya bawa sampai saya menemukan penggantinya dan memulai kegiatan ini dengan objek yang berbeda. Dengan dia yang berbeda. Kembali dalam lingkaran memusingkan tak berkesudahan yang hanya bisa diputus oleh 2 hal. Saya sendiri dan kematian salah satu dari kami.

Saya harus bisa mengelak dari semua kepungan ini. Kepungan yang merupakan perih yang tertahan hingga tak satupun dari kami mau melawan. Setidaknya, saya pernah merasa senang berada di sekitarnya. Di mana kita berpapasan atau bertegur sapa. Terbuai dalam ekspetasi gila di setiap malam menuju tidur saya. Terlampau gila mengamati setiap inchi tubuh dia. Merasakan gerah dalam setiap hembusan napas yang ia bebaskan. Mendengar rengekan minta tolongnya pada saya. Setidaknya, adanya saya pernah diminta oleh sosok yang dipuja.

Fakta dan masa depan menjadikan penyapih semua kegiatan berdebah ini. Semua perbuatanku dicela oleh kekasihnya. Keberadaanku terasa dilupakan oleh dia. Saatnya, saya disapih secara perlahan. Perlahan saya menjadi buih karena dia. Penyapihan secara halus yang memerkosa saya untuk pergi. Mencari sesuatu yang baru selain dia di luar sini. Semuanya telah menyublim tak berbekas. Semua telah terbang jauh terhempas karena bukan terbang bebas. Semua lenyap dalam satu kedipan mata di saat semua harus kembali dalam secercah fakta tertulis di balkon kehidupan.


Semuanya kembali kepada diri kita. Siapkah kita menerima kenyataan yang akan terjadi ke depannya? Jangan salahkan siapa-siapa bila kita terluka. Ini jalan yang kita pilih. Mereka tak ikut andil dalam kegiatan ini, mereka hanya wayang-wayang fana yang kita ciptakan sendiri. Di sini kita adalah dalangnya.
1

S e p h i a



Hujan deras mengguyur kota ini. Seandainya, aku segera pulang, aku pasti masih bisa bercanda dan tertawa. Melewati ulang tahunku yang sudah kamu rencanakan jauh-jauh hari. Mencicipi masakan ibuku yang tiada dua. Hanyut dalam alunan biolamu yang memekakan telingaku, meskipun  sudah setahun kamu mengambil kursus musik, kamu tak kunjung mahir. Mungkin, kamu memang tidak bakat. Dan, yang akan selalu aku rindukan adalah mendengarkanmu bercerita tentang temanmu yang jauh di sana.

Saat kamu bercerita tentang temanmu itu, kamu seperti tidak memiliki orang lain di dunia ini. Padahal, kamu punya aku  yang bisa mendengarkanmu bercerita dan datang ke rumah pukul sembilan malam, meskipun hujan lebat saat itu. Bahkan, aku melupakan ujian Biologi besok. Kamu selalu bersemangat saat namanya kamu sebut. Matamu begitu berbinar menyilaukan mataku dan kamu seperti memiliki dua nyawa yang siap untuk dimiliki dua orang sekaligus, dirimu sendiri dan temanmu itu tadi. Tahukah kamu, akulah yang selalu ada buat kamu apapun yang terjadi?

Saat ini, saat hujan mengguyur lebih deras dari 5 menit yang lalu. Aku ingin sekali menghubungimu, tetapi ponselmu mati. Hanya voice mail yang terkumandang di seberang sana. Ada apa denganmu? Apa kamu masih marah denganku karena telah memutuskan sandal jepit seharga setengah jutamu? Atau ini termasuk rencanamu sebagai kejutan di hari ulang tahunku? Ini misteri bagiku. Kamu yang menyebabkanku begini, menelponmu sambil berkendara sungguh tak aman.

Tubuhku meringan selepas kamu mengangkat teleponku. Namun, hujan terlalu keras sehingga kamu tak bisa mendengar apa yang aku ucapkan. Kamu mungkin hanya merasa bahwa aku sedang iseng menelponmu, seperti biasanya kamu sudah tahu. Atau kamu memang marah betul kepadaku?

Gaun hitammu menyambar kaki meja itu, lalu kaki kekasihku. Gaun yang terakhir kamu pakai 2  tahun lalu. Katamu, gaun ini akan terpakai pada saat-saat tertentu. Seistimewakah hari ini untukmu? Wajahmu sedikit berbeda, sedari tadi kamu hanya menggenggam tisu untuk menyeka air di wajahmu. Entah genting gedung ini bocor, kamu berkeringat, atau kamu menangis?

Pencahayaan gedung ini tidak cukup terang. Seseorang telah menyeting sedemikian sehingga menjadi remang-remang. Kamu termasuk orang yang tidak betah dengan sesuatu yang remang-remang.

“Bisakah kita menyalakan lampu lebih terang? Terlalu syahdu untukku,” celetukmu.

Beberapa pria berseragam sedang sibuk mendekor di sana dan di sini, menata bunga-bunga dan meja kursi berbalut kain satin. Seperti acara pernikahan saja menurutku. Seseorang berkata padamu bahwa setelan lampu ini sudah yang maksimum, kamu harus menyewa lampu lebih untuk menjadikan lebih terang. Kamu mengatakan tak perlu lagi. Apakah gedung ini memang remang-remang atau interior logamnya lah yang memeberikan sensasi gelap?

Kamu menyambar segelas air putih di sebelahmu. Kamu menangis. Biasanya akulah yang menenangkanmu saat menangis, tetapi mengapa kali ini kau tak bisa? Inginku menyeka air matamu. Ada apa ini? Pria berseragam, tangisan keluargaku, kamu yang menangis, kekasihku yang terisak-isak, ibuku yang sedari tadi jatuh bangun, tamu pertama yang hadir, dan detikkan jam tangan. Ini terlalu hening. Ini misteri. Aku tak suka keduanya.

Kurang dari satu jam, gedung ini penuh dengan manusia berbaju hitam. Semuanya berkumpul, tanpa obrolan. Mereka diam. Piano itu, piano itu mengalunkan lagu yang tak aku suka, “Funeral March”. Aku benci ini. Pianis keparat itu sedang belajar mimik sedih, mengayunkan jemarinya dengan gesture pelan. Bolehkah aku meminta lagu melayu kesukaanku? Aku tak suka ini.

Kamu bangkit dari tempatmu terduduk. Kamu mendatangi sebuah lokasi di gedung itu di mana bunga-bunga segar tertata apik. Tempat di mana lilin-lilin putih tejejer dan menari menjilati udara dingin ini. Di mana fotoku terpampang nyata. Dan, aku. Aku di sana. Bagaimana bisa? Aku terbujur kaku dengan balutan jas lengkap karya Brutus? Bagaimana bisa? Kamu menangis di samping peti matiku. Aku telah mati. Kini, aku sadar. Gaunmu yang terpakai hanya saat kamu berkabung. Gaun hitammu. Terpakai 2 tahun lalu, sepeninggal ayahmu. Aku tersadar mengapa kamu menangis. Mengapa banyak bunga. Mengapa begitu remang. Mengapa mereka berkumpul, padahal biasanya mencela. ‘Mengapa’ku telah terjawab.

Aku teringat kejadian 2 jam yang lalu. Saat kamu melangkah gontai dan air matamu deras mengalir di pipimu. Kamu memasuki pintu kamar rumah sakit. Tak satu pun yang menyiapkan semua. Aku pergi tanpa pertanda khusus, tanpa penyakit kronis, tetapi karena sebuah kecelakaan di malam hari yang memindahkan kamarku ke kasur rumah sakit, lalu kamar mayat. Kemudian, gedung duka cita ini. Kamu hanya melihatku sepintas. Napasmu tercekat beberapa detik, lalu kamu berkata llirih pada dirimu sendiri.

“Dia pulang,” kamu ucapkan itu untuk meyakinkan dirimu sendiri agar tidak menyusul ibuku untuk pingsan. Semua orang belum menyadarinya, kecuali kamu, sebelum dokter dan suster mengumumkan kematian resmiku. Semua orang menangis mengantarku ke gedung ini, termasuk kamu. Tetapi, matamu terus bertanya. Mengapa sekarang? Mengapa aku? Tuhan?! Dan, tak ada jawab.

Inginku menyapamu. Sephia. Sahabatku. Aku baik-baik saja, Sephia. Janganlah menangis. Tak usah kamu menanti aku. Aku tak akan datang dan mencoba untuk berpaling dari cintamu tadi. Tak usah kamu merindui aku. Aku sudah menemui Cahaya Surga-ku. Entah kapan aku dan kamu tak tahu, kamu pasti akan menyusulku. Entah melalui cara apa caramu kembali, pasti kamu akan kembali. Selamat tidur, Sephia. Selamat tinggal, kasih yang tak terungkap.

Semoga, kamu lupakan aku cepat. Semoga, kamu menemukan aku versi yang lain cepat. Aku hanya menyelinap ke ruang sebelah. Aku menunggumu di tikungan jalan dalam sebuah interval tak terjelang ruang. Aku akan selalu mendengarkanmu becerita tentang apapun itu. Bahkan, tenatang temanmu yang berjarak  27 km dari rumahmu, 47 menit dengan kendaraan bermotor, dan 5 jam berjalan kaki. Padahal, aku sangat membenci itu. Janganlah kamu membenci hari ini. Janganlah kamu membuat prosesi khusus setiap detik, jam, hari, bulan kematianku. Ucapakan hal kecil yang selalu kita gunakan saaat kita berpisah. Selamat tinggal! Sudah cukup sekali saja.
6

Filosofi Tol

Saya hidup di kehidupan yang serba salah. Mengapa saya sebut demikian? Salah terus. Begini dianggap salah, begitu malah salah kaprah. Seperti saat ini, saat ini bagaikan era kesalahan bagi saya. Di rumah saja, disangka bolos. Pulang cepat, disangka colut. Pulang sorean sedikit, disangka main melulu. Bahkan, hadir dan bernapas di sini pun salah.

Dahulu, saya berpikir, “Mengapa saya salah, padahal saya sudah benar?” Benar,gundulmu. Saya tidak bisa menilai diri saya. Kalau saya yang menilai saya yang menilai, sudah saya beri A. Seseorang pernah bilang ke saya,”Yang menilai kamu adalah orang lain, bukan kamu sendiri.” Itulah mengapa saya sudah membuang jauh-jauh pertanyaan tadi. Saya rasa saya butuh suatu objek terkuat (versi saya) untuk dijadikan pedoman. Bukan, maksud saya teladan. Bukan juga, mungkin bisa dibilang guru. Ntar, kalau saya bilang nabi, bisa dihajar sejuta umat maya ini.

Saya (bukan) termasuk pemuja tokoh-tokoh besar inspiratif, seperti B.J. Habibie atau Nicola Tesla. Saya lebih suka BJ-tanpa Habibie-(Bang Junot ) dan Nicholas Saputra daripada mereka. Bhaqq. Sama sekali tidak bermanfaat untuk membahas Bang Junot di sini. Saya juga (bukan) termasuk pemuja tokoh-tokoh imajinatif seperti, Cinderella atau pun Snow White. Menurut saya, hidup tidak harus seperti gumebyaring klambine Princess.

Saya lebih suka jalan tol. Ya. Tol. Memang aneh, tapi saya berkata jujur. Alasan rasa cinta saya pada tol, saya ungkapkan di sini. Cinta yang belum -akan saya sampaikan di kesempatan kali ini- pernah terucap. Cinta yang hanya membuat saya terbisukan oleh kenyamanannya. Cinta yang tak bisa saya definisikan dengan bahasa manusia atau serigala. Cinta tak terjemahkan oleh segala kamus dari mancanegara. Saya suka tol karena kebebasan dan kedamaiannya. Itu saja. Maksudnya saya, dengan segala sub bab-sub bab penjelasannya.


Saya suka bebas, saya tidak pernah suka untuk dikekang. Diatur. Namun,saya makhluk sosial yang terikat utang dan undang-undang. Aturan selalu mengiringi kehidupan saya, seperti nada dan puisi di pagelaran opera. Saya suka tol, karena dia bebas hambatan. Dia disukai semua orang karena dia bebas macet. Saya ingin jadi tol, karena kehadiran saya tidak membuat orang naik pitam dan marah. Tidak bikin pusing kepanasan, karena cukup kamu buka jendelamu, kamu sudah terasupi oksigen yang cukup.

Saya suka tol karena dia kuat. Kuat yang sekuat-kuatnya. Proses pembebasan tanah yang berbelit, seperti halnya proses pernikahan ayah-ibumu dengan berbagai tetek bengek yang harus terpenuhi untuk sesuatu itu bisa hadir. Apakah sesuatu itu? Kamu. Demi kehadiranmu, mereka jabanin segala tetek-bengek tadi. Seperti, tol yang dibebaskan. Setelah terbebaskan kepemilikannya, tol harus dicor dengan semen agar kuat.lalu, dilapisi aspal goreng yang kuat dan memeberikan kesan dan efek halus yang menyamankan pengendara yang melaju di atasnya. Tol mengajarkan saya untuk menghargai sebuah proses terbebasnya sesuatu. Tol pula yang mengajarkan saya  hati yang yang kuat menimbulkan jiwa yang halus. Kekuatan dan kehalusan yang seharusnya berdiferensiasi malah berasosiasi jadi satu.

Saya suka tol karena dia  menyenangkan. Siapa yang tak suka lewat tol? Bebas hambatan, jalan halus, angin sepoi-sepoi, dan kenangan. Tak tahu mengapa, setiap saya lewat tol, saya seperti kembali di masa lalu saya yang menyenangkan dan tanpa dosa. Terlebih bila perjalanan itu diiringi lagu melankolis, rasanya cukup melihat bahu jalan di sisi kiri sambil melamun sudah menyenangkan hati saya. Sumpah. Yang ini dangdut banget.

Saya suka tol karena dia lurus. Mayoritas memang lurus, meskipun ada yang belok. Saya belajar dari tol untuk berjalan lurus di kebenaran yang aman, tidak berbahaya. Lurus dalam berpikir  tanpa adanya manik-manik kepeningan bila kita melaju di atasnya. Dengan tol, saya belajar untuk tetap menjaga kecepatan, meskipun itu lurus. Karena kita tak akan tahu apa yang terjadi di depan. Meskipun, kita sering melewati jalan itu, jalan itu tak akan pernah sama, seperti yang telah berlalu.

Saya suka tol karena tol memberi pilihan. Tol memberikan kita banyak petunjuk. Di kilometer berpakah kamu atau mau kemana kamu. Kamu diberi pilihan untuk ke sana, kemari, atau berhenti. Kamu hanya perlu melihat tanda lalu-lintas di sisi kirimu, atasmu, bahkan sisi kananmu. Kamu hanya perlu memilih laju mana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemauanmu. Kamu diberi pilihan untuk lanjut atau berhenti sejenak di rest area.Kamu bisa memilih di sana. Saya ingin hidup seperti itu. Saya ingin, saya diberi petunjuk manakah jalan yang seharusnya saya lewati, bila saya ingin ke suatu tujuan. Saya juga ingin diberi suatu tempat nyaman untuk istirahat sejenak dari segala bentuk perjalanan hidup. Dalam bentuk apapun itu saya tidak perduli. Yang penting saya bisa rebahan di sana.

Saya suka tol karena dia mahal. Dia tidak murahan. Segala proses demi adanya sebuah jalan bernama tol tidaklah semudah membalikkan tangan, atau membuang ingus. Kamu perlu membayar untuk tahu dan menikmati indahnya tol. Tol mengajarkan saya untuk tidak dengan mudahnya mengumbar keindahan diri kita.  Cukup kita dan orang terdekat saja yang berhak untuk itu. Mengapa? Karena mereka mampu membayar.

Saya suka tol karena dia sombong. Mengapa? Dia hanya menerima yang beroda 4 ke atas. Dia punya skala prioritas tersendiri. Dia mempunyai kriteria khusus dalam mempersembahkan dirinya untuk dijajal. Seharusnya, kita juga seperti itu. Bukan berarti kita harus berteman dengan yang kaya. Maksudnya, kita harus bisa memberi kriteria khusus bagi mereka yang akan mengisi kehidupan kita kelak. Untuk apa? Untuk kesenangan, kenyamanan,dan keselamatan bersama. Mengapa tol begitu kejam? Saya rasa karena tol identik dengan bebas hambatan, semua orang suka memacu lebih kencang kendaraannya, motor pasti akan kewalahan bila dihadapakan dengan kendaraan-kendaraan besar lainnya. Bijaksana, bukan?

Menurut saya, tol memberi definisi lebih tentang hidup. Tol mengajarkan banyak hal yang berharga dan mengena di kehidupan saya yang serba salah. Saya harus kuat dalam mengahadapi segala. Meskipun pada akhirnya harus menyerah, tempat kembali tetaplah Tuhan Yang Maha Esa.


-Jadilah tol yang kuat, halus, lurus, tapi pemilih-
9

Kamu dan Orang Itu

Pertemuan
Percayakah kamu tentang pertemuan di masa lalu akan berimbas di masa sekarang?
Aku sang pengamatmu...



Demi melajunya kegiatan sosial manusia, diperlukan satu kegiatan terpenting di dalamnya, yaitu pertemuan. Pertemuan mengajarkan saya tentang arti kata, "Hai!" yang mudah terucap dan kata "Dah!!" terasa berat terungkap -if I really into that meeting- bagi saya dan seseorang yang saya temui tadi. Lalu, pernahkah kamu merasakan bahwa kalian pernah bertemu dengan seseorang sebelumnya? Maksudku, buka di kehidupan yang ini. Di kehidupan yang lain.

Kamu seperti pernah melihat orang itu, entah dengan cara apa kamu bisa tahu. Awalnya, kalian berperilaku seperti orang asing, sibuk dengan dunia kalian masing-masing. Sibuk dengan hal yang menjadi sekat di antara kamu dan orang itu. Namun, kalian belum saling menyadari bahwa kalian saling mengawasi satu sama lain.

Kamu belum sadar bahwa orang itu mengawasimu sepersekian detik setelah kamu meliriknya. Kamu sendiri sibuk dengan poselmu, berpura-pura sedang menggunakan panggilan video dengan temanmu di negeri yang jauh. Padahal, kamu sedang menggunakan kamera belakang untuk merekam orang itu. Terkadang kamu terlalau naif untuk mengakui perbuatanmu. Tenang. Aku juga seperti itu. Kita adalah orang berkepribadian sama. Atau akulah kamu? Entah.

Orang itu terlihat juga sibuk dengan ponselnya. But, you are there. Kamu mengalihkan dunianya, begitu pula sebaliknya. Mengapa aku berani berkata begitu pada kamu? Karena sering aku memergoki orang itu sedang meninggalkan ponselnya -walau sepersekian detik- hanya untuk melirikmu. Hingga akhirnya, mata kalian bertemu. Craaaappppp!!!


Salah tingkahlah kamu. Salah tingkahlah dia. Namun, kalian hanya melirik. Sudah begitu saja, tak ada kegiatan lain. Senyum kek. Omong apa kek. Baiklah, aku paham. Kalian masih naif. Kamu dan orang itu kembali larut dalam ponsel kalian masing-masing. Sampai akhirnya, kamu lelah mencari sudut yang tepat untuk menangkap gambar orang itu. Kamu menyalakan mode pesawat pada ponselmu hanya untuk menghemat daya bateraimu. Kamu meraih novel dari penulis kesukaanmu. Entah mengapa, setiap kamu membaca buku itu, kamu seperti hidup -karena saat ini kamu tidak layak untuk dikatakan hidup-, kamu hanyut dalam setiap sabda baginda ratumu itu. Kamu terbuai, hingga kamu tak sadar, orang itu melihatmu, LAGI.


Orang itu sejenak termenung, menyaksikan sampul bukumu, aku yakin kali ini hipotesisku benar tentangnya. Dia seperti kamu. Iya. Dia juga suka penulis bukumu itu. Salah satu penulis favoritnya, di mana dia memiliki selusin rak buku yang berisikan karya penulis kesukaanmu tadi. Aku yakin, kali ini dia sedang mencari cara. Cara untuk berbicara dengan kamu.

Jam di tanganmu menunjukkan pukul tujuh, satu jam molor dari jadwal keberangkatan. Ini mengapa kamu tak suka naik kendaraan umum. Kamu harus menunggu, tapi kali ini penungguanmu yang mengesankan, bukan? Karena ada dia. Kalian akhirnya berangkat. Tiket yang kamu pesan menunjukkan sebuah kursi busuk yang kamu tak suka, aku mohon, sukailah perjalanan ini. Karena jika kamu tak suka, ceritaku akan selesai. Kamu pun memilih untuk tinggal. Karena ini yang harus kamu lakukan untuk segera datang di tujuan.

Kursi sebelahmu kosong, bolehkah aku duduk di sana? Tidak. Orang itu yang mendudukinya. Gila!!!!! Bahagianya kamu. Aku bisa lihat raut wajahmu. Matamu tersenyum, sekalipun bibirmu tidak. Hatimu jingkrak-jingkrak, sekalipun badanmu tidak, karena jikalau kamu berdiri terantuklah kepalamu oleh atap kendaraan busuk itu.

Orang itu duduk. Duduk biasa. Tidak perlu kamu bayangkan! Seharusnya, kamu lebih tahu daripada aku, karena kamu di sana, dengan orang itu. Namun, karena kamu tak bisa berbahasa, biarkan aku berkarya. Hahahahaha.

Kamu tersenyum. Akhirnya. Benar-benar senyum di bibir, bukan di mata. Kamu bukan orang yang judes seperti yang mereka kira. Bukan orang bacut, yang teman-temanmu katakan. That is only the other you and this is the real you. Kamu yang ramah, sopan, santun, dan bersahaja. Ternyata, orang itu ramah juga. Orang itu membalas senyummu. Aku bisa merasakan detak jantungmu. Jika saja aku menaruh susu di dadamu, niscaya susu itu akan berubah menjadi susu kocok karena kencangnya degup jantungmu.

Kalian bertanya tentang asal dan tujuan kalian. Ternyata, kalian punya satu tujuan yang sama. Bahagianya kamu bisa ditemankan oleh sosok terindah yang kamu puja sejak pagi tadi. Kalian seperti sudah akrab, tetapi kalian baru kenal 5 menit yang lalu.

Orang itu bertanya tentang bukumu. Apakah dirimu juga menyukai penulis kesuakaannya itu? Kamu menjawab ya, singkat, namun akrab. Kalian bicara tentang hidup kalian yang semrawut begini adanya. Kamu yang  tak pernah bisa mengetahui apa tujuan hidupmu dan dia yang tak pernah bisa menemukan kedamaian abadi sebelum dia pernah mati suri. Tunggu. Dia pernah mati suri? Pernah.Orang itu berkata bahwa dia menyesal harus kembali ke dunia ini. Di dunia di  mana orang itu harus berjuang sendiri tanpa bapak atau ibu, tanpa kekasih -karena kekasihnya yang jadi mati-, tanpa saudara-karena orang itu anak tunggal-, dan tanpa harta warisan -karena ayahnya bukan pensiunan atau hartawan-. Orang itu memilih mencari kedamaian abadi tersebut lewat perjalanan ini. Lewat kamukah? Kamu pasti sudah besar kepala saaat ini, bila aku bercerita padamu sekarang jga

Kamu begitu terpana melihat sorot matanya yang teduh -sudah jarang kamu menemukan mata seperti itu, sepeninggal ayahmu-, terpikat pada tuturnya yang halus dan berbahasa tinggi, dan gesture tubuhnya yang mengingatkanmu pada pelatih tarimu yang galaknya bukan kepayang. Kamu tepana saat orang itu berkata bahwa orang itu akan mencari kedamaian di tujuannya kelak.

Kamu bertanya tenatang macam kedamaian  yang orang itu cari. Jawaban orang itu mengesankan dirimu. Senyummu mengembang seperti adonan kue donat yang diberi fermipan. Belum pernah kamu mendengar jawaban seseorang sereligius itu. Kamu seperti menumakan pecahan dirimu yang hilang.

Kalian orang yang sama dalam tujuan. Kalian orang yang sama dalam kehidupan yang serba sulit ini. Kalian orang yang sama dalam cinta. Pacarmu meninggalkanmu sebulan sebelum ijab qabulmu terikrar. Kecelakaan di salah satu tol baru di negaramu telah merenggut seorang anak dari calon ibu mertuamu, teman dari teman-temanmu, dan calon suami darimu. Sedangakan orang itu? Pacarnya juga mati dalam sebuah ekspedisi berbahaya di salah satu gunung tertinggi di negaramu. Pacarnya terjerumus ke jurang, orang itu berusaha menyelamatkan, sayang orang itu tak berhasil. Kepalanya terantuk batang pohon besar yang membuat genggamannnya dengan sang pacar terlepas. Pacarnya mati, ia juga, walaupun mati suri. Begitu penjelasan kalian tentang riwayat percintaan kalian.

Bola matamu dan bola matanya beradu. Bersenyawa dalam panasnya kendaraan busuk itu. Tak tahu mengapa kalian menjadi begini. Karena saat sebelumnya aku harus membersihkan tumpahan susu anakku. Sialan. Aku tertinggal cerita.

Lalu, kalian mengucapkan satu kata yang sama - kata ulang-. Aku tak tahu bahasa mana itu. Cuma kalian berdua yang tahu. Sebuah kata berulang yang singkat, asing, tapi aku pernah dengar. Kata yang juga merupakan nama mantan suamiku yang pertama.

Orang itu berkata bahwa ia pernah bertemu denganmu di kehidupan lalu. Di kehidupan di mana ia dan belahan jiwanya berbahagia. Di kehidupan di amana kejidupan tidak seamburadul sekarang. Di kehidupan di mana kamu adalah belahan jiwanya dan orang itu adalah belahan jiwamu. Di kehidupan di mana orang itu tak perlu jauh-jauh mencari kedamaian karena di sampingmu damainya tercipta. Di kehidupan di mana kamu bisa menikmati indahnya mata teduh, tanpa harus mengunjungi ayahmu di luar negeri. Di kehidupan di mana ada kalian, belum terpisahkan zaman.

Orang itu berkata, "Inikah wujudmu sekarang, My soulmate?"


Mata kalian masih menghunus satu sama lain. Tangannya mengusap air matamu yang meleleh digodok panasnya pertanyaan orang itu dan panasnya kendaraan busuk ini. Tanganmu bergetar, hngga buku terjatuh. Bibir kalian bertemu. Tanganmu meraih punggungnya. Kalian berciuman, lalu berperlukan.


Dengan peluh tak berkesudahan, kamu menjawab, "I really miss you. I've found you. As long as 180゜ you go, we met in the circle."

Orang itu menenmukan kedamainannya. Kedamaian abadinya tanpa perlu menjadi pertapa. Begitu pula kamu. Kamu menemukannya, belahan jiwamu, tujuanmu bangun jam 3 pagi untuk menaiki bus pertama menuju kota di mana (mantan) pacarmu dimakamkan. Kamu tak perlu lagi ke sana, begitupula orang itu. Kalian tertawa. Menyadari sebuah kenyataan bahwa reinkranasi itu ada. Kalian tahu rahasia itu,begitu pula aku yang duduk 1 bangku di belakangmu.
8

Mereka yang Butuhnya Saja

Pernakah kamu?
Pernakah kamu didatangi seseorang hanya di saat mereka butuh?
 Atau justru kamu orang itu?



Manusia adalah makhluk sosial yang di kehidupannya memiliki keterkaitan yang kuat satu sama lain. Manusia hidup dengan kebutuhan mereka masing-masing. Kebutuhan yang dinamis, berbeda dari individu satu dengan individu lainnya, kalaupun sama, tak mungkin. Coba saja kamu urut dari A-Z, pasti ada yang beda, walaupun hanya letak titik dan koma. Pernahkah kamu dianggap sebagai "orang butuhnya saja"? Saya pernah. Saya marah, walaupun hanya dalam hati. Terlebih, bila mereka yang bilang itu adalah temanmu sendiri. Rasanya seperti menyesal telah bersama dengan dia sekian lama. Semenyesalnya saya beli barang, dua hari kemudian diskon 50%. Ingin saya bakar toko itu.

Seseorang tidak dapat disimpulkan begitu saja. Pernah melihat buah maja? Perawakannya yang menyerupai buah manis, looked like jeruk bali. Sayangnya, pendapatmu salah. Buah itu pahit luar biasa. Bagaimana tidak? Buah itu yang menjadi cikal-bakal Kerajaan Majapahit. Jelas saja buah itu pahit. Hal itu, seperti manusia, kelihatannya manis, tapi pahit. Menyakitkan. Lidahnya seperti belati beracun, sekali tancap bisa membunuh manusia lain.

Ya. Seperti orang melihat saya. Mereka berpikir, saya datang ketika saya butuh. Padahal, saya tidak merasa begitu. Saya merasa biasa saja. Tapi, mengapa three little words yang menyakitkan tadi harus keluar dari mulut teman saya. Teman saya sendiri. Rasanya ini tidak adil.


Apa tidak adil? Saya memang gak adil. Tidak pantas berbicara seperti itu. Kalau saya bertanya pernahkah mengucapkan that 3 little words? Pernahkah saya? Ya. Saya akan jawab dengan tegas dan lugas. P E R N A H. Cerita singkatnya, sahabat saya datang kepada saya, dia ingin saya untuk menliskan tugas salah satu mata pelajran. Saya tau betul bahwa dia bisa dan mampu untuk mengerjakan itu sendiri, mengapa harus saya. Sontak, keluarlah three little words yang pedasnya mengalahkan rawit. Yang melalangbuanakan perasaan. Memporakporandakan hati yang tertata apik. Dengan nada datar, namun tersirat emosi di dalamnya, sahabat saya menjawab,
“Ya. Gue memang teman yang butuhnya aja. Gak mungkin gue datang ke rumah lu tanpa tujuan. Pasti pas gue datang ke rumah lu, lu pasti tanya tujuan gue ke rumah lu apa. Entah lu atau gue, pasti ada yang butuh satu sama lain. Semua orang akan datang ketika merka butuh. Pikirin!”
Sontak, saya diam. Saya tidak pernah merasa setuju dengan pendapat sahabat saya tadi. Egois saja.

Kami tetap bersabahat speerti biasa. Biasa. Like we used to. That was us. We never get arguing more than 1 hour. Without saying apologize. Without saying bullshit. We could be good again. Hingga, suatu hari suatu hari yang sangat mendung. Saya ingat hari itu hari Rabu, mendung, pertanda langit akan menangis, menangisi apa? Kematiannya. Dia pergi dengan meninggalkan sejuta petuah dalam telinga saya. Tersimpan di long term memory saya. Saya merasakan betul apa yang dia ucap terutama, pada Semua Orang Akan Datang Ketika Mereka Butuh.

Saya punya teman yang lain. Dia memang datang ketika dia butuhnya saja, dia datang ke saya ketika ingin pinjam apa ke saya, minta dianterin, minta diajarkan apa, ditraktirin apa, dll. Pastinya jengkel. Ya. Sekarang saya sudah malas bahas orang. Tidak perlu lagi saya mengatakan three little words yang menyakitkan tadi. Cukup saya melihat diri saya. Bagaimanakah saya? Apakah saya selalu datang kepada teman saya tanpa tujuan, tanpa kebutuhan satu sama lain? Pernahkah saya pulang ke rumah saya bukan karena butuh tempat pulang, tempat tinggal, atau orang tua saya? Pernahkah saya datang ke orang tua saya tanpa tujuan, tanpa embel-embel ingin ini-itu? Pernahkah saya berdoa kepada Tuhan karena saya tidak butuh pertolongan Tuhan? Pernahkan saya? Kepada Tuhan pun saya datang ketika butuhnya saja. Percaya atau tidak. Bagi saya, yang percaya adanya kehidupan setelah kematian, saya datang ke Tuhan karena saya butuh bantuan-Nya, ketika kehidupan itu datang kepada saya.

Intinya. Janganlah kita mengucapkan 3 little words menyakitkan tadi. Coba rasa, bila kalian dikatakan seperti itu,dan lihatlah dirimu! Sesempurna itukah kamu? Saya belum tahu kalian, tapi saya yakin, kalian tidak sempurna. Pada hakikatnya, manusia memang datang ketika mereka butuh. Kepada teman, keluarga, orang tua, relative, sanak saudara, apalah bentuknya, bahkan TUHAN. Jangan heran bila kamu menemukan orang yang butuhnya saja. Itu sudah tabiat manusia. Seperti tabiat singa yang menerkam dan memangsa rusa karena merekabutuh makan. Itu sama nilainya seperti kelemahan manusia yang ini, yaitu butuhnya saja. Sudah jadi hakikat, sulit terlepas, dan kita harus memaklumi. Kemudian, mengakui bahwa diri kita juga seperti itu. Tidak bisa terlepas dari manusia lain, kita makhluk sosial, sekaligus makhluk alam. Kita harus paham sosial, tanpa harus menyingkirkan hukum alam. Paham sosial terhadap saling memahami dan menyadari adanya hukum alam, MANUSIA MEMANG DATANG SAAT MEREKA BUTUH.
2

Hai, Manusia!!!

Selamat datang!


Frasa ini saya dedikasikan untuk kalian semuanya dan tentunya saya sendiri. Ini merupakan kali kedua mungkin saya menulis blog, yang pertama merupakan tugas sekolah, jadi malas rasanya untuk lanjut. Mengapa saya nulis blog? Disarankan oleh teman saya. Dia bilang saya cocok aja. Gak ada salahnya untuk mencoba ya, kan? Kata Cold Play, "If you never try, you'll never know." 


Jadi, izinkan saya menulis ya. Setidaknya, bisa menjadi motivasi untuk saya. Dan, maklumilah saya jikalau isinya tidak membantu karena saya bukan ahli Fisika yang bisa membantumu mengerjakan PR, bukan psikolog yang mampu memecahkan masalahmu, bukan dukun yang bisa menyembuhkan penyakitmu.

Saya.
Saya Marsya Bunga Dis Ardansyah. Mostly, people call me Bunga. Kalau baru 2 jam kenal, Marsya. 3 tahun kenal, Bunga. 7 tahun kenal, Kembang. Dan, 3 menit kenal, Marsiah. Setan. I hate that name. Fuck you, Dhim who gave me that name!
Saya adalah seorang pelajar. Hobi colut. Belajar saat besok ulangan. Datang ke sekolah pas Indonesia Raya. Berani menentang ideologi guru yang tidak mau disalahkan. Saya lahir 16 tahun yang lalu -terhitung tahun ini, 2017- di salah satu kota kecil, Magetan, Jawa Timur. Saya menuntut ilmu di SMAN 1 Magetan -hanya sebagai pelengkap data aja di biodata -sebenarnya males- aja. Ga niat. Saya anak IPA, tapi sama sekali tidak minat, kecuali di Matematika. Suka tidur pas pelajaran, sampai bawa bantal ke sekolah. Jika dilegaglkan, pasti saya sudah bawa sleeping bag. 
Prestasi saya?
Juara 1 Olimpiade Fisika 2016 Nasional, Siswa Berprestasi Jawa Timur 2017, Juara 1 FL2SN Menyanyi 2017, Juara 1 PPTL Nasional 2017, Duta Lalu Lintas Jawa Timur, Juara 1 Debat se-Asia Pasifik, Duta Kesehatan Remaja Jawa Timur, dsb. Ya. Semua udah saya jabanin. Itu semua prestasi saya, tapi harus usai setelah ibu saya membangunkan saya dari tidur. Bunga tidur yang indah, bukan? Tak apa. Jadikan sebagi motivasi saja. Woyy? Bagaiman bisa berprestasi kalau datang telat, pelajaran tidur, suka berantem sama guru, bawa buku cuma 2 buku tulis, ga suka nulis rangkuman. Pikirkan! Ga mungkinlah. Tapi, mungkin saja ada keajaiban gitu. Saya ketiban bintang jatuh yang mengilhami otak saya, sehingga saya menjadi berprestasi. Berdoa saja. Semoga waktu bisa mengilhami sisi otakku yang tertimbun sarang laba-laba.
Saya bingung caranya mengusaikan ini. Masalah lain bisa bahas di tulisan saya ke depan aja ya.
Happy Reading!!








Sekian deh.






-Terdedikasi Untukmu yang Hidup-
5

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com