Pages

Do Not Say "DONT!"



Di sekitar kita pasti banyak bermacam-macam, beraneka ragam bentuk, sifat, soliditas, kepekatan, hingga kerapatan manusia. Mulai dari yang bicara tanpa tedeng aling-aling, hingga yang Cuma krusak-krusuk bergeming ga jelas sampai-sampai kita harus mengucapkan “Ha?”, “Gimana?”, atau yang lainnya. Ada juga yang kalau mengajak berkomunikasi harus face-to-face, harus kontak mata langsung. Ada juga yang kalau berbicara sambil beraktivitas. Ada juga kalau lagi ngobrol harus benar-benar diperhatikan, kalau tidak, dia akan baper. Ngomong kalau dia bukan prioritas atau lainnya. Ada juga yang suka ngatain, tapi dikatain balik (padahal, bercanda) akan marah. Baper. Yupss. Jenis seperti ini judulnya mah, Homo baperensis.

Saya ada orang. Orang ini unik. Sangat unik. Menyebalkan, tetapi berkat ia saya belajar. Namanya, Si Antusias. Waktu itu, kita bincang-bincang tentang hal kecil tentang kita. hal kecil yang sangat sepele. Ia sangat asyik menceritakan hal kecil itu dengan antusias. Sangat semangat, bahkan berapi-api. Tapi sayang, ia memunculkan api. Lalu, ada salah satu rekan menanyakan tetang barangnya yang hilang tiba-tiba.

Manusia!! Bila saja kalian mendapati seseorang yang memberi pengumuman baranghilang, apa yang akan kalian lakukan? Kalau saya akan berbalik focus ke si pemberi pengumuman tadi. Secara, dia berada tepat di belakang saya. sontak, saya menoleh kepada Si Kehilangan. Apa respon Si Antusias yang berbicara dengan saya sebelumnya. Ada rasa kecewa di matanya. Sekilat, tapi saya tahu bahwa dia tidak bisa diperlakukan seperti itu.

Si Antusias ingin diperhatikan. Ingin kita menatap wajahnya saat ia menjelaskan. Si Antusias berkata kepadea saya.

“Kamu tidak memperhatikan saya. seolah, saya bukan prioritas.”

What a damn!! Kalian sebal tidak dikatakan seerti itu. Kalau saya, sebal bukan main. Si Antusias hanya bicara hal kecil. Sangat kecil. Sedangkan, Si Kehilangan sedang bimbang mencari kepunyaannya yang terselip entah di mana ia tak tahu.

“Kamu tuh ya!! Baperan!!”

Pedes yaa. Saya langsung berkata itu pada Si Antusias. Saya memang begitu kalau bicara. Kalau kata orang, ga pernah mikir, pedas. Saya bicara apa adanya, kalau kamu begitu saya akan bilang kamu itu begitu, bukan mengindahkan kamu dengan bilang, “Kalau kamu itu begini looo, jadinya aku bisa suka.”

Ayahku mengajarkan aku untuk tidak basa-basi. Lama. Membuat kita muak dan terlihat seolah kamu itu sedang cari muka. Intinya gitu deh. Cerita berlanjut. Dengan gaya saya yang sok bijak, saya menasehati dia seolah saya tahu asam garam kehidupan dan cara manggulanginya.

“Terkadang ya. Kamu tuh harus bersikap semua itu biasa. Act as if it commonly happened. Tidak semua hal bisa dimasukkan ke hati. Kamu harus latihan unutuk berubah.”

Si Antusias pun menjawab. Dan, jawabannya ini yang membuat saya berpikir.

“Kamu jangan bicara bahwa orang itu gampang baper. Kata baper itu juga yang membuat seseorang lupa untuk minta maaf.”

What the hack!!Perasaan saya. saya ga pernah minta maaf, kalau setelah bicara. Begitupun dengan Si Antusias, dengan yang lainnya. Tak ada adat meminta maaf di sini. Semua bicara biasa saja. Berperilaku biasa. Karena apa? Mereka berpikir orang lain adalah mereka. Mereka yang biasa saja diperlakukan yang tidak biasa.

Sejak itu saya berpikir. Harusnya, saya ga bilang seperti itu. Saya merasa skeptic. Saya dongkol. Saya berpikir, hingga saya menemukan bintang jawaban. Saya tidak bisa meminta Si Antusias berubah. Itu hanya membuatnya semakin tidak suka dengan saya. yang bisa saya pinta yaaa, diri saya sendiri.

Saya harus bisa bersikap fleksibel. Bagaimana saya harus berinteraksi dengan Si Antusias, Si Krusak-Krusuk, Si Nyablak, dan Si Si yang lain. Saya harus beradaptasi dengan manusia, bukan hanya dengan alam. Semua orang berbeda, Bung. Karena mereka bukan robot yang   diprogram.

Kaktus saja beradaptasi dengan menumbuhkan duri. Cicak pun memutuskan ekornya. Kalau saya?  Saya harus memasang duri di hati saya saat dicekoki muntahan cemooh orang, tetapi saya juga harus rela memutuskan ego saat menghadapi Homo Baperian. Intinya, bentengi diri kita dengan Konsep Adaptasi Interaksi agar kita bisa hidup dengan selaras, harmonis, sejalan, dan sepikiran.

~Thanks for The Enthusiast


1

Ujaran Kebencian


Cukup lama saya tidak melanjutkan tulisan saya karena beberapa alasan yang mengikat. Mungkin lebih tepatnya saya belum menemukan bintang inspirasi saya. Biasanya, saya mendapatkan bintang itu di saat saya benar-benar mengalami suatu hal yang bisa membuat saya berpikir pada saat apapun. Tetapi, kali inisaya belajar tentang diri saya sendiri. Saya berpikir mengapa mereka begini. Salahkah saya?

Keegoisan menuntun saya pada pemikiran bahwa saya adalah mahabenar. Semua tatanan yang terwujud atas rasa cinta, percaya, dan hidup bersama hilang dalam hitungan ego yang tak masuk akal. Saya menyalahkan semua orang atas ketidakmengertian mereka terhadap saya. Saya mengaggap semua orang membenci saya hanya karena mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Di kesibukan mereka, mereka melihat tugas tersebut seperti melalui corong  terfokus hingga lupa bahawa saya ada. Tidak  bergunakah saya?

Sekarang bukan saatnya bicara berguna atau tidak, tetapi bersediakah? Bersediakah saya hadir di saat mereka  menggadaikan waktu senggang saya untuk menorehkan tinta keberhasilan bersama? Sayangnya, saya tidak bersedia. Amarah terlanjur menutupi mata batin saya. Cemooh terlanjur melukai gendang telinga saya. Hingga saya tak mampu mendengar, bahwa mereka menjerit minta tolong, tetapi saya tetap tidak peduli.

“Kalian jahat. Kalian tak pernah mengharagi saya. kalian hanya memikirkan kalian.kalian hanya mengahragai diri kalian masing-masing. Yang di pikiran kalian hanya kemaslahatan kalian, bukan kita.”

Kata-kata itu kian mengisi sekat-sekat otak saya yang dulu terisi tawa kita. Sekat-sekat merah muda segar itu pun menjelma menjadi sekat-sekat hitam kelam dan berbau. Saya skeptik. Saya tidak tahu harus apa. Haruskah saya ikut melukiskan di dinding masa depan kita atau memilih utnuk menghindar?

Jika saya menanyakan ini  kepada ego, ego akan meminta saya untuk tidak usah ikut perduli dengan mereka. Buat apa? Hadir hanya untuk dijadikan pelampiasan. Hanya dijadikan sampah yang ingin dibuang tapi enggan. Saya hanya kerikil tajam yang harus dibuang, hanya mampu merusak banperjalanan mereka.

Tetapi, saat saya mencoba mengingat apa yang telah mereka lakukan untuk saya, saya terbangun dari hipnotis Si Ego. Saya teringat bahwa merekalah yang sudi membenci, sekaligus mencinta. Kehadiran saya untuk kali kedua ini, menghantarkan saya pada satu panggilan saya yang  familiar. Suara cempreng, namun penuh ketulusan dan kasih sayang. Membuat saya tak sanggup menatap mata sang empunya lebih dari dua detik. Gurauan dan candaan mereka tetaplah sama seperti dahulu, tak ada yang berubah. Saya yang berubah, saya yang menghindar.

Saya memang marah. Tepatnya, marah kepada diri saya sendiri. Saya tidak bisa beradaptasi seperti kalian pada satu sama lain. Saya masih terlalu manja dan goblog untuk ini. “Saya hanya benci tanganmu, tapi saya ikut membenci seluruh tubuhmu,”

Saya tidak bisa memaafkan diri saya, sehingga saya melampiaskan itu pada mereka. Mereka jelas tidak tahu itu karena saya tidak cerita. Mereka sedang sibuk, saya harus tahu. Saya harus beradaptasi, bahkan berevolusi. Saya tidak ingin dianggap manja atau tidak kekeluargaan. Saya tidak manja dan saya tidak minta. Saya hanya ingin ini semua tetap ekuilibrium, jangan pernah goyah lagi, meskipun lidah terus menancapkan belati.

LOve yoU
0

Duniaku Berisik


Bunyi di telinga menggema. Teriak gelegar suara. Keras bagaikan gemuruh yang membakar diri. Emosi tersulut karena grusak-grusuk perusak indera pendengar. Setiap inchi pergerakan menjadi bahan cibiran. Setiap jengkal tubuh kita adalah cacat. Setiap sabda yang terucap adalah dusta. Setiap hembusan napas kita adalah dosa. Semuanya salah. Tak ada yang benar.

Jengah dengan kondisi mereka yang tak kunjung lelah mencibir, padahal ludahnya telah berbuih. Ingin saya suruh mereka untuk enyah, tetapi mereka juga menguntungkan. Setidaknya begini ceritanya, kita terkenal dan diketahui oleh orang awam dikarenakan  ulah mereka. Lidah mereka. Energi yang telah mereka curahkan pada gulat lidah telah menyebabkan kita dikenal setiap sudut lautan manusia. Segala penjuru mengetahui kita.

Kita hidup memang begini adanya. Berisik, namun berirama. Bukan berarti, selalu suram dan bikin gendang telinga sobek. Kita ini manusia. Manusia yang terdedikasi untuk hidup. Untuk slaing bergantungan satu sama lain. Apa saja yang kita lakukan harus ada mereka –mereka yang berisik, maupun tidak. Dan, jangan enyahkan pula konsekuensi dari segala mobilitas dan movement  kita. kurang lebih seperti ini.

Ceritanya, ada seorang anak dan bapak yang lagi menang lotre. Mereka mendapatkan sebuah hadiah yang cukup nyentrik pada zaman itu. Mereka mendapat seekor keledai. Untuk menggotong Si Keledai pulang mereka dihdapkan oleh banak cibiran dari manusia-manusia iri yang tak tahu diri atau sedang mengalami kejang lidah, sehingga butuh pelemasan jaringan otot di lidah.

Awalnya, bapak meminta anaknya untuk menunggangi keledai. Sontak, anaknya menaiki keledai dan Sang Bapak menuntun Si Keledai. Memang pada dasarnya netizen itu julid, anak dianggap tidak tahu diri dan tidak menghormati Sang Bapak. Masa anak enak duduk santai kek di pantai, sedangkan Sang Bapak harus menapaki aspal yang panas. “Gak tahu diri!”, cibir mereka.

Mendengar ucapan tersebut, anak jelas tersinggung. Akhirnya, dia meminta Sang Bapak untuk menunggangi keledai tersebut dan anak yang berjalan. Eh, sekarang malah dibilang bapaknya tega bener sama anaknya. Masa bapaknya enak naik keledai, anaknya jalan kaki. “Bapak yang tidak mau berkorban!”

Mereka pun memutuskan untuk menunggangi keledai secara bersamaan. Bapak di depan, anak mengikuti bapaknya. Cukup tenang mereka melalui perkampungan tersebut. Kalau memang terdedikasi untuk julid, ya julid. Mereka dicap tidak punya rasa berperikehewanan. “Tega sekali mereka menunggangi keledai yang sekecil itu!”

Sudah merasa bosan, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menunggangi keledai tersebut sama sekali. Mereka berdua menuntun keledai tersebut secara bersamaan. Namun, pilihan tersebut masih saja dianggap salah. “Bodohnya mereka. Punya keledai, tetapi tidak dimanfaatkan.”

Well, intinya begitu. Setiap langkah yang kita ambil selalu dirasa salah oleh mereka yang pada dasarnya tidak suka kita.  Bersikap masa bodoh, namun tetap butuh adalah kuncinya. Why? Tanpa adanya kebulan asap dari mulut mereka, kia gak bakal dikenal sebagai manusia yang berbeda. Tanamkan dalam pikiranmu kalau They hate us because they anus –they ain’t us.

Kita tercipta untuk saling melengkapi. Mereka adalah sisi gelapmu yang tak harus kamu tutupi. Karena tanpa adanya gelap tak aka nada terang. Tanpa adanya gelap, bintang tak akan terlihat berkelip. Berisik? Nikmati saja, diskotik berisik bayarnya mahal.

~Ceritanya lagi menasihati diri sendiri.
0

Rahasiaku, Rahasia Tuhan, Rahasia Malaikat-Nya

"I've broken free from this memory. I've let it go" ~ Avril Lavigne

Kagum menjadi salah satu definisi saya tentang ‘terlalu’ mengetahui seseorang. Maksud saya, kita bisa dikategorikan kagum terhadap seseorang apabila kita tahu siapa orang itu, bagaimana dia, dan suatu gebrakan yang dia lakukan sehingga membuat kita terkesima. Mungkin pola pikirnya, cara bicaranya, kegiatannya, jabatannya, dsb.

Mengagumi seseorang tidak serta merta harus memproklamirkan kekaguman kita. Kita tidak diharuskan terang-terangan tentang perasaan kita. Dalam mengagumi seseorang, kita biasanya mengategorikan mana yang pantas untuk diketahui orang lain atau hanya kita saja yang perlu tahu. Bila kita merasa cukup kita yang tahu, kita akan tiba pada saat di mana ketika kita melihat orang tersebut kita akan melongo dan menatapnya sekian detik hingga kita sadar bahwa liur kita sudah menetes tanpa perlu memberitakan kehadiran orang itu kepad teman atau kerabat kita.

Secret admirer. Secret admirer bukan lagi menjadi kata asing di telinga kita. Secret admirer didefinisikan sebagai pemuja rahasia. Secara harfiah memang begitu. Jadi, menurut definisi secara mendalam, saya tidak sudi membahas lagi.

Menjadi secret admirer memang menjadi tantangan bagi saya. Di situ, saya merasa dituntut untuk memahami seseorang tanpa harus bertanya sebanyaknya-banyaknya. Saya hanya perlu mengobservasi setiap inchi pergerakan yang dialaminya. Terkadang, saya juga bisa mengambil hikmah di situ. Apa saja yang baik dari, saya ambil dan saya telaah lagi. Mungkin bisa menjadi reflektor untuk diri saya.

Menjadi secret admirer memberikan saya esensi menegangkan dari senam jantung. Di mana di saat saya harus mengamati orang terpuja, saya terpergok sedang mengamatinya. Memang memalukan. Bila sudah mengalami kejadian tersebut, biasanya saya langsung pasang wajah bloon dan hempas entah berantah.

Namun, menjadi secret admirer tidak serta merta memberikan rasa senang pada diri saya. Terkadang, bahkan biasanya kita harus dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak bisa melebihi batas ini. Saya tidak bisa menapaki karier saya terhadap dia yang lebih tinggi. Kasarnya, saya mentok. Saya harus bisa menerima bahwa dia tidak mengetahui peran saya. Saya harus berlapang dada bila dia tidak membalas apa yang telah saya lakukan pada dia. Karena ini tugas rahasia, antara saya, Tuhan, dan malaikat-Nya.

Ada kalanya, saya mungkin merasakan bahwa saya tidak hanya kagum. Saya sudah terlampau jauh dari ini. Saya mengatakan kepada orang-orang bahwa dia hebat, taka da cacar sedikit pun. Saya selalu bersemangat bila forum tentang dia telah dibuka. Selalu saja setiap saya menyebut namanya seperti nyawa saya ada dua. Begitu kata saya. Laksana kerdil saya memalu karena menatap dia dua inchi lebih dalam. Menyirami diri agar merebah. Sudah sampailah saya pada sisi gelapnya.

Ini adalah dendam yang tak terucap. Mengapa? Dendam bukan selalu berarti sesuatu hal yang buruk untuk dibalaskan, tetapi sesuatu yang harusnya dibalaskan. Dendam yang harusnya dia berikan kepada saya tak pernah ia ucapkan, bahkan hanya dalam sebuah pesan singkat. Padahal, saya sudah mengirimkan sejuta rangsang agar dia betapa dalamnya saya mengetahui seluk beluk, palung, dan jurang jiwanya. Haruskah saya marah ataupun menyesali ini semua?

Ini adalah rahasia yang tak terungkap. Jawaban yang cukup untuk menepis semua tanda Tanya atas emosi yangharusnya meluap ke permukaan. Pertanyaan yang serta-merta saya ciptakan sendiri sekaligus jawabnya. Semuanya terjawab tak perlu waktu. Semua jawab sudah terbentuk sejak kaki saya melangkah dengan mantap menuju subjek bernama secret admirer. Rahasia yang tak diketahui oleh manusia manapun, kecuali saya. Rahasia yang harus saya bawa sampai saya menemukan penggantinya dan memulai kegiatan ini dengan objek yang berbeda. Dengan dia yang berbeda. Kembali dalam lingkaran memusingkan tak berkesudahan yang hanya bisa diputus oleh 2 hal. Saya sendiri dan kematian salah satu dari kami.

Saya harus bisa mengelak dari semua kepungan ini. Kepungan yang merupakan perih yang tertahan hingga tak satupun dari kami mau melawan. Setidaknya, saya pernah merasa senang berada di sekitarnya. Di mana kita berpapasan atau bertegur sapa. Terbuai dalam ekspetasi gila di setiap malam menuju tidur saya. Terlampau gila mengamati setiap inchi tubuh dia. Merasakan gerah dalam setiap hembusan napas yang ia bebaskan. Mendengar rengekan minta tolongnya pada saya. Setidaknya, adanya saya pernah diminta oleh sosok yang dipuja.

Fakta dan masa depan menjadikan penyapih semua kegiatan berdebah ini. Semua perbuatanku dicela oleh kekasihnya. Keberadaanku terasa dilupakan oleh dia. Saatnya, saya disapih secara perlahan. Perlahan saya menjadi buih karena dia. Penyapihan secara halus yang memerkosa saya untuk pergi. Mencari sesuatu yang baru selain dia di luar sini. Semuanya telah menyublim tak berbekas. Semua telah terbang jauh terhempas karena bukan terbang bebas. Semua lenyap dalam satu kedipan mata di saat semua harus kembali dalam secercah fakta tertulis di balkon kehidupan.


Semuanya kembali kepada diri kita. Siapkah kita menerima kenyataan yang akan terjadi ke depannya? Jangan salahkan siapa-siapa bila kita terluka. Ini jalan yang kita pilih. Mereka tak ikut andil dalam kegiatan ini, mereka hanya wayang-wayang fana yang kita ciptakan sendiri. Di sini kita adalah dalangnya.
1

S e p h i a



Hujan deras mengguyur kota ini. Seandainya, aku segera pulang, aku pasti masih bisa bercanda dan tertawa. Melewati ulang tahunku yang sudah kamu rencanakan jauh-jauh hari. Mencicipi masakan ibuku yang tiada dua. Hanyut dalam alunan biolamu yang memekakan telingaku, meskipun  sudah setahun kamu mengambil kursus musik, kamu tak kunjung mahir. Mungkin, kamu memang tidak bakat. Dan, yang akan selalu aku rindukan adalah mendengarkanmu bercerita tentang temanmu yang jauh di sana.

Saat kamu bercerita tentang temanmu itu, kamu seperti tidak memiliki orang lain di dunia ini. Padahal, kamu punya aku  yang bisa mendengarkanmu bercerita dan datang ke rumah pukul sembilan malam, meskipun hujan lebat saat itu. Bahkan, aku melupakan ujian Biologi besok. Kamu selalu bersemangat saat namanya kamu sebut. Matamu begitu berbinar menyilaukan mataku dan kamu seperti memiliki dua nyawa yang siap untuk dimiliki dua orang sekaligus, dirimu sendiri dan temanmu itu tadi. Tahukah kamu, akulah yang selalu ada buat kamu apapun yang terjadi?

Saat ini, saat hujan mengguyur lebih deras dari 5 menit yang lalu. Aku ingin sekali menghubungimu, tetapi ponselmu mati. Hanya voice mail yang terkumandang di seberang sana. Ada apa denganmu? Apa kamu masih marah denganku karena telah memutuskan sandal jepit seharga setengah jutamu? Atau ini termasuk rencanamu sebagai kejutan di hari ulang tahunku? Ini misteri bagiku. Kamu yang menyebabkanku begini, menelponmu sambil berkendara sungguh tak aman.

Tubuhku meringan selepas kamu mengangkat teleponku. Namun, hujan terlalu keras sehingga kamu tak bisa mendengar apa yang aku ucapkan. Kamu mungkin hanya merasa bahwa aku sedang iseng menelponmu, seperti biasanya kamu sudah tahu. Atau kamu memang marah betul kepadaku?

Gaun hitammu menyambar kaki meja itu, lalu kaki kekasihku. Gaun yang terakhir kamu pakai 2  tahun lalu. Katamu, gaun ini akan terpakai pada saat-saat tertentu. Seistimewakah hari ini untukmu? Wajahmu sedikit berbeda, sedari tadi kamu hanya menggenggam tisu untuk menyeka air di wajahmu. Entah genting gedung ini bocor, kamu berkeringat, atau kamu menangis?

Pencahayaan gedung ini tidak cukup terang. Seseorang telah menyeting sedemikian sehingga menjadi remang-remang. Kamu termasuk orang yang tidak betah dengan sesuatu yang remang-remang.

“Bisakah kita menyalakan lampu lebih terang? Terlalu syahdu untukku,” celetukmu.

Beberapa pria berseragam sedang sibuk mendekor di sana dan di sini, menata bunga-bunga dan meja kursi berbalut kain satin. Seperti acara pernikahan saja menurutku. Seseorang berkata padamu bahwa setelan lampu ini sudah yang maksimum, kamu harus menyewa lampu lebih untuk menjadikan lebih terang. Kamu mengatakan tak perlu lagi. Apakah gedung ini memang remang-remang atau interior logamnya lah yang memeberikan sensasi gelap?

Kamu menyambar segelas air putih di sebelahmu. Kamu menangis. Biasanya akulah yang menenangkanmu saat menangis, tetapi mengapa kali ini kau tak bisa? Inginku menyeka air matamu. Ada apa ini? Pria berseragam, tangisan keluargaku, kamu yang menangis, kekasihku yang terisak-isak, ibuku yang sedari tadi jatuh bangun, tamu pertama yang hadir, dan detikkan jam tangan. Ini terlalu hening. Ini misteri. Aku tak suka keduanya.

Kurang dari satu jam, gedung ini penuh dengan manusia berbaju hitam. Semuanya berkumpul, tanpa obrolan. Mereka diam. Piano itu, piano itu mengalunkan lagu yang tak aku suka, “Funeral March”. Aku benci ini. Pianis keparat itu sedang belajar mimik sedih, mengayunkan jemarinya dengan gesture pelan. Bolehkah aku meminta lagu melayu kesukaanku? Aku tak suka ini.

Kamu bangkit dari tempatmu terduduk. Kamu mendatangi sebuah lokasi di gedung itu di mana bunga-bunga segar tertata apik. Tempat di mana lilin-lilin putih tejejer dan menari menjilati udara dingin ini. Di mana fotoku terpampang nyata. Dan, aku. Aku di sana. Bagaimana bisa? Aku terbujur kaku dengan balutan jas lengkap karya Brutus? Bagaimana bisa? Kamu menangis di samping peti matiku. Aku telah mati. Kini, aku sadar. Gaunmu yang terpakai hanya saat kamu berkabung. Gaun hitammu. Terpakai 2 tahun lalu, sepeninggal ayahmu. Aku tersadar mengapa kamu menangis. Mengapa banyak bunga. Mengapa begitu remang. Mengapa mereka berkumpul, padahal biasanya mencela. ‘Mengapa’ku telah terjawab.

Aku teringat kejadian 2 jam yang lalu. Saat kamu melangkah gontai dan air matamu deras mengalir di pipimu. Kamu memasuki pintu kamar rumah sakit. Tak satu pun yang menyiapkan semua. Aku pergi tanpa pertanda khusus, tanpa penyakit kronis, tetapi karena sebuah kecelakaan di malam hari yang memindahkan kamarku ke kasur rumah sakit, lalu kamar mayat. Kemudian, gedung duka cita ini. Kamu hanya melihatku sepintas. Napasmu tercekat beberapa detik, lalu kamu berkata llirih pada dirimu sendiri.

“Dia pulang,” kamu ucapkan itu untuk meyakinkan dirimu sendiri agar tidak menyusul ibuku untuk pingsan. Semua orang belum menyadarinya, kecuali kamu, sebelum dokter dan suster mengumumkan kematian resmiku. Semua orang menangis mengantarku ke gedung ini, termasuk kamu. Tetapi, matamu terus bertanya. Mengapa sekarang? Mengapa aku? Tuhan?! Dan, tak ada jawab.

Inginku menyapamu. Sephia. Sahabatku. Aku baik-baik saja, Sephia. Janganlah menangis. Tak usah kamu menanti aku. Aku tak akan datang dan mencoba untuk berpaling dari cintamu tadi. Tak usah kamu merindui aku. Aku sudah menemui Cahaya Surga-ku. Entah kapan aku dan kamu tak tahu, kamu pasti akan menyusulku. Entah melalui cara apa caramu kembali, pasti kamu akan kembali. Selamat tidur, Sephia. Selamat tinggal, kasih yang tak terungkap.

Semoga, kamu lupakan aku cepat. Semoga, kamu menemukan aku versi yang lain cepat. Aku hanya menyelinap ke ruang sebelah. Aku menunggumu di tikungan jalan dalam sebuah interval tak terjelang ruang. Aku akan selalu mendengarkanmu becerita tentang apapun itu. Bahkan, tenatang temanmu yang berjarak  27 km dari rumahmu, 47 menit dengan kendaraan bermotor, dan 5 jam berjalan kaki. Padahal, aku sangat membenci itu. Janganlah kamu membenci hari ini. Janganlah kamu membuat prosesi khusus setiap detik, jam, hari, bulan kematianku. Ucapakan hal kecil yang selalu kita gunakan saaat kita berpisah. Selamat tinggal! Sudah cukup sekali saja.
6

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com