"I've broken free from this memory. I've let it go" ~ Avril Lavigne
Kagum menjadi salah satu definisi saya tentang ‘terlalu’ mengetahui seseorang. Maksud saya, kita bisa dikategorikan kagum terhadap seseorang apabila kita tahu siapa orang itu, bagaimana dia, dan suatu gebrakan yang dia lakukan sehingga membuat kita terkesima. Mungkin pola pikirnya, cara bicaranya, kegiatannya, jabatannya, dsb.
Mengagumi seseorang tidak serta merta harus memproklamirkan kekaguman kita. Kita tidak diharuskan terang-terangan tentang perasaan kita. Dalam mengagumi seseorang, kita biasanya mengategorikan mana yang pantas untuk diketahui orang lain atau hanya kita saja yang perlu tahu. Bila kita merasa cukup kita yang tahu, kita akan tiba pada saat di mana ketika kita melihat orang tersebut kita akan melongo dan menatapnya sekian detik hingga kita sadar bahwa liur kita sudah menetes tanpa perlu memberitakan kehadiran orang itu kepad teman atau kerabat kita.
Secret admirer. Secret admirer bukan
lagi menjadi kata asing di telinga kita. Secret
admirer didefinisikan sebagai pemuja rahasia. Secara harfiah memang begitu.
Jadi, menurut definisi secara mendalam, saya tidak sudi membahas lagi.
Menjadi secret admirer memang menjadi tantangan
bagi saya. Di situ, saya merasa dituntut untuk memahami seseorang tanpa harus
bertanya sebanyaknya-banyaknya. Saya hanya perlu mengobservasi setiap inchi
pergerakan yang dialaminya. Terkadang, saya juga bisa mengambil hikmah di situ.
Apa saja yang baik dari, saya ambil dan saya telaah lagi. Mungkin bisa menjadi
reflektor untuk diri saya.
Menjadi secret admirer memberikan saya esensi
menegangkan dari senam jantung. Di mana di saat saya harus mengamati orang
terpuja, saya terpergok sedang mengamatinya. Memang memalukan. Bila sudah
mengalami kejadian tersebut, biasanya saya langsung pasang wajah bloon dan
hempas entah berantah.
Namun, menjadi secret admirer tidak serta merta
memberikan rasa senang pada diri saya. Terkadang, bahkan biasanya kita harus
dihadapkan pada kenyataan bahwa saya tidak bisa melebihi batas ini. Saya tidak
bisa menapaki karier saya terhadap dia yang lebih tinggi. Kasarnya, saya
mentok. Saya harus bisa menerima bahwa dia tidak mengetahui peran saya. Saya
harus berlapang dada bila dia tidak membalas apa yang telah saya lakukan pada
dia. Karena ini tugas rahasia, antara saya, Tuhan, dan malaikat-Nya.
Ada kalanya, saya
mungkin merasakan bahwa saya tidak hanya kagum. Saya sudah terlampau jauh dari
ini. Saya mengatakan kepada orang-orang bahwa dia hebat, taka da cacar sedikit
pun. Saya selalu bersemangat bila forum tentang dia telah dibuka. Selalu saja
setiap saya menyebut namanya seperti nyawa saya ada dua. Begitu kata saya.
Laksana kerdil saya memalu karena menatap dia dua inchi lebih dalam. Menyirami
diri agar merebah. Sudah sampailah saya pada sisi gelapnya.
Ini adalah dendam
yang tak terucap. Mengapa? Dendam bukan selalu berarti sesuatu hal yang buruk
untuk dibalaskan, tetapi sesuatu yang harusnya dibalaskan. Dendam yang harusnya
dia berikan kepada saya tak pernah ia ucapkan, bahkan hanya dalam sebuah pesan
singkat. Padahal, saya sudah mengirimkan sejuta rangsang agar dia betapa
dalamnya saya mengetahui seluk beluk, palung, dan jurang jiwanya. Haruskah saya
marah ataupun menyesali ini semua?
Ini adalah
rahasia yang tak terungkap. Jawaban yang cukup untuk menepis semua tanda Tanya
atas emosi yangharusnya meluap ke permukaan. Pertanyaan yang serta-merta saya
ciptakan sendiri sekaligus jawabnya. Semuanya terjawab tak perlu waktu. Semua
jawab sudah terbentuk sejak kaki saya melangkah dengan mantap menuju subjek
bernama secret admirer. Rahasia yang
tak diketahui oleh manusia manapun, kecuali saya. Rahasia yang harus saya bawa
sampai saya menemukan penggantinya dan memulai kegiatan ini dengan objek yang
berbeda. Dengan dia yang berbeda. Kembali dalam lingkaran memusingkan tak
berkesudahan yang hanya bisa diputus oleh 2 hal. Saya sendiri dan kematian
salah satu dari kami.
Saya harus bisa
mengelak dari semua kepungan ini. Kepungan yang merupakan perih yang tertahan
hingga tak satupun dari kami mau melawan. Setidaknya, saya pernah merasa senang
berada di sekitarnya. Di mana kita berpapasan atau bertegur sapa. Terbuai dalam
ekspetasi gila di setiap malam menuju tidur saya. Terlampau gila mengamati
setiap inchi tubuh dia. Merasakan gerah dalam setiap hembusan napas yang ia
bebaskan. Mendengar rengekan minta tolongnya pada saya. Setidaknya, adanya saya
pernah diminta oleh sosok yang dipuja.
Fakta dan masa
depan menjadikan penyapih semua kegiatan berdebah ini. Semua perbuatanku dicela
oleh kekasihnya. Keberadaanku terasa dilupakan oleh dia. Saatnya, saya disapih
secara perlahan. Perlahan saya menjadi buih karena dia. Penyapihan secara halus
yang memerkosa saya untuk pergi. Mencari sesuatu yang baru selain dia di luar
sini. Semuanya telah menyublim tak berbekas. Semua telah terbang jauh terhempas
karena bukan terbang bebas. Semua lenyap dalam satu kedipan mata di saat semua
harus kembali dalam secercah fakta tertulis di balkon kehidupan.
Semuanya kembali
kepada diri kita. Siapkah kita menerima kenyataan yang akan terjadi ke
depannya? Jangan salahkan siapa-siapa bila kita terluka. Ini jalan yang kita
pilih. Mereka tak ikut andil dalam kegiatan ini, mereka hanya wayang-wayang
fana yang kita ciptakan sendiri. Di sini kita adalah dalangnya.

๐๐
BalasHapus