Pages

Ujaran Kebencian


Cukup lama saya tidak melanjutkan tulisan saya karena beberapa alasan yang mengikat. Mungkin lebih tepatnya saya belum menemukan bintang inspirasi saya. Biasanya, saya mendapatkan bintang itu di saat saya benar-benar mengalami suatu hal yang bisa membuat saya berpikir pada saat apapun. Tetapi, kali inisaya belajar tentang diri saya sendiri. Saya berpikir mengapa mereka begini. Salahkah saya?

Keegoisan menuntun saya pada pemikiran bahwa saya adalah mahabenar. Semua tatanan yang terwujud atas rasa cinta, percaya, dan hidup bersama hilang dalam hitungan ego yang tak masuk akal. Saya menyalahkan semua orang atas ketidakmengertian mereka terhadap saya. Saya mengaggap semua orang membenci saya hanya karena mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Di kesibukan mereka, mereka melihat tugas tersebut seperti melalui corong  terfokus hingga lupa bahawa saya ada. Tidak  bergunakah saya?

Sekarang bukan saatnya bicara berguna atau tidak, tetapi bersediakah? Bersediakah saya hadir di saat mereka  menggadaikan waktu senggang saya untuk menorehkan tinta keberhasilan bersama? Sayangnya, saya tidak bersedia. Amarah terlanjur menutupi mata batin saya. Cemooh terlanjur melukai gendang telinga saya. Hingga saya tak mampu mendengar, bahwa mereka menjerit minta tolong, tetapi saya tetap tidak peduli.

“Kalian jahat. Kalian tak pernah mengharagi saya. kalian hanya memikirkan kalian.kalian hanya mengahragai diri kalian masing-masing. Yang di pikiran kalian hanya kemaslahatan kalian, bukan kita.”

Kata-kata itu kian mengisi sekat-sekat otak saya yang dulu terisi tawa kita. Sekat-sekat merah muda segar itu pun menjelma menjadi sekat-sekat hitam kelam dan berbau. Saya skeptik. Saya tidak tahu harus apa. Haruskah saya ikut melukiskan di dinding masa depan kita atau memilih utnuk menghindar?

Jika saya menanyakan ini  kepada ego, ego akan meminta saya untuk tidak usah ikut perduli dengan mereka. Buat apa? Hadir hanya untuk dijadikan pelampiasan. Hanya dijadikan sampah yang ingin dibuang tapi enggan. Saya hanya kerikil tajam yang harus dibuang, hanya mampu merusak banperjalanan mereka.

Tetapi, saat saya mencoba mengingat apa yang telah mereka lakukan untuk saya, saya terbangun dari hipnotis Si Ego. Saya teringat bahwa merekalah yang sudi membenci, sekaligus mencinta. Kehadiran saya untuk kali kedua ini, menghantarkan saya pada satu panggilan saya yang  familiar. Suara cempreng, namun penuh ketulusan dan kasih sayang. Membuat saya tak sanggup menatap mata sang empunya lebih dari dua detik. Gurauan dan candaan mereka tetaplah sama seperti dahulu, tak ada yang berubah. Saya yang berubah, saya yang menghindar.

Saya memang marah. Tepatnya, marah kepada diri saya sendiri. Saya tidak bisa beradaptasi seperti kalian pada satu sama lain. Saya masih terlalu manja dan goblog untuk ini. “Saya hanya benci tanganmu, tapi saya ikut membenci seluruh tubuhmu,”

Saya tidak bisa memaafkan diri saya, sehingga saya melampiaskan itu pada mereka. Mereka jelas tidak tahu itu karena saya tidak cerita. Mereka sedang sibuk, saya harus tahu. Saya harus beradaptasi, bahkan berevolusi. Saya tidak ingin dianggap manja atau tidak kekeluargaan. Saya tidak manja dan saya tidak minta. Saya hanya ingin ini semua tetap ekuilibrium, jangan pernah goyah lagi, meskipun lidah terus menancapkan belati.

LOve yoU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com