Cukup lama saya
tidak melanjutkan tulisan saya karena beberapa alasan yang mengikat. Mungkin lebih
tepatnya saya belum menemukan bintang inspirasi saya. Biasanya, saya
mendapatkan bintang itu di saat saya benar-benar mengalami suatu hal yang bisa
membuat saya berpikir pada saat apapun. Tetapi, kali inisaya belajar tentang
diri saya sendiri. Saya berpikir mengapa mereka begini. Salahkah saya?
Keegoisan menuntun
saya pada pemikiran bahwa saya adalah mahabenar. Semua tatanan yang terwujud
atas rasa cinta, percaya, dan hidup bersama hilang dalam hitungan ego yang tak
masuk akal. Saya menyalahkan semua orang atas ketidakmengertian mereka terhadap
saya. Saya mengaggap semua orang membenci saya hanya karena mereka sibuk dengan
tugas masing-masing. Di kesibukan mereka, mereka melihat tugas tersebut seperti
melalui corong terfokus hingga lupa
bahawa saya ada. Tidak bergunakah saya?
Sekarang bukan saatnya
bicara berguna atau tidak, tetapi bersediakah? Bersediakah saya hadir di saat
mereka menggadaikan waktu senggang saya
untuk menorehkan tinta keberhasilan bersama? Sayangnya, saya tidak bersedia. Amarah
terlanjur menutupi mata batin saya. Cemooh terlanjur melukai gendang telinga
saya. Hingga saya tak mampu mendengar, bahwa mereka menjerit minta tolong,
tetapi saya tetap tidak peduli.
“Kalian jahat. Kalian
tak pernah mengharagi saya. kalian hanya memikirkan kalian.kalian hanya
mengahragai diri kalian masing-masing. Yang di pikiran kalian hanya
kemaslahatan kalian, bukan kita.”
Kata-kata itu
kian mengisi sekat-sekat otak saya yang dulu terisi tawa kita. Sekat-sekat
merah muda segar itu pun menjelma menjadi sekat-sekat hitam kelam dan berbau. Saya
skeptik. Saya tidak tahu harus apa. Haruskah saya ikut melukiskan di dinding
masa depan kita atau memilih utnuk menghindar?
Jika saya
menanyakan ini kepada ego, ego akan meminta saya untuk tidak usah ikut perduli
dengan mereka. Buat apa? Hadir hanya untuk dijadikan pelampiasan. Hanya dijadikan
sampah yang ingin dibuang tapi enggan. Saya hanya kerikil tajam yang harus
dibuang, hanya mampu merusak banperjalanan mereka.
Tetapi, saat saya
mencoba mengingat apa yang telah mereka lakukan untuk saya, saya terbangun dari
hipnotis Si Ego. Saya teringat bahwa merekalah yang sudi membenci, sekaligus
mencinta. Kehadiran saya untuk kali kedua ini, menghantarkan saya pada satu
panggilan saya yang familiar. Suara cempreng,
namun penuh ketulusan dan kasih sayang. Membuat saya tak sanggup menatap mata
sang empunya lebih dari dua detik. Gurauan dan candaan mereka tetaplah sama
seperti dahulu, tak ada yang berubah. Saya yang berubah, saya yang menghindar.
Saya memang
marah. Tepatnya, marah kepada diri saya sendiri. Saya tidak bisa beradaptasi
seperti kalian pada satu sama lain. Saya masih terlalu manja dan goblog untuk
ini. “Saya hanya benci tanganmu, tapi saya ikut membenci seluruh tubuhmu,”
Saya tidak bisa
memaafkan diri saya, sehingga saya melampiaskan itu pada mereka. Mereka jelas
tidak tahu itu karena saya tidak cerita. Mereka sedang sibuk, saya harus tahu. Saya
harus beradaptasi, bahkan berevolusi. Saya tidak ingin dianggap manja atau
tidak kekeluargaan. Saya tidak manja dan saya tidak minta. Saya hanya ingin ini
semua tetap ekuilibrium, jangan pernah goyah lagi, meskipun lidah terus
menancapkan belati.
LOve yoU

Tidak ada komentar:
Posting Komentar