Pertemuan
Percayakah kamu tentang pertemuan di masa lalu akan berimbas di masa sekarang?
Aku sang pengamatmu...
Demi melajunya kegiatan sosial manusia, diperlukan satu kegiatan terpenting di dalamnya, yaitu pertemuan. Pertemuan mengajarkan saya tentang arti kata, "Hai!" yang mudah terucap dan kata "Dah!!" terasa berat terungkap -if I really into that meeting- bagi saya dan seseorang yang saya temui tadi. Lalu, pernahkah kamu merasakan bahwa kalian pernah bertemu dengan seseorang sebelumnya? Maksudku, buka di kehidupan yang ini. Di kehidupan yang lain.
Kamu seperti pernah melihat orang itu, entah dengan cara apa kamu bisa tahu. Awalnya, kalian berperilaku seperti orang asing, sibuk dengan dunia kalian masing-masing. Sibuk dengan hal yang menjadi sekat di antara kamu dan orang itu. Namun, kalian belum saling menyadari bahwa kalian saling mengawasi satu sama lain.
Kamu belum sadar bahwa orang itu mengawasimu sepersekian detik setelah kamu meliriknya. Kamu sendiri sibuk dengan poselmu, berpura-pura sedang menggunakan panggilan video dengan temanmu di negeri yang jauh. Padahal, kamu sedang menggunakan kamera belakang untuk merekam orang itu. Terkadang kamu terlalau naif untuk mengakui perbuatanmu. Tenang. Aku juga seperti itu. Kita adalah orang berkepribadian sama. Atau akulah kamu? Entah.
Orang itu terlihat juga sibuk dengan ponselnya. But, you are there. Kamu mengalihkan dunianya, begitu pula sebaliknya. Mengapa aku berani berkata begitu pada kamu? Karena sering aku memergoki orang itu sedang meninggalkan ponselnya -walau sepersekian detik- hanya untuk melirikmu. Hingga akhirnya, mata kalian bertemu. Craaaappppp!!!
Salah tingkahlah kamu. Salah tingkahlah dia. Namun, kalian hanya melirik. Sudah begitu saja, tak ada kegiatan lain. Senyum kek. Omong apa kek. Baiklah, aku paham. Kalian masih naif. Kamu dan orang itu kembali larut dalam ponsel kalian masing-masing. Sampai akhirnya, kamu lelah mencari sudut yang tepat untuk menangkap gambar orang itu. Kamu menyalakan mode pesawat pada ponselmu hanya untuk menghemat daya bateraimu. Kamu meraih novel dari penulis kesukaanmu. Entah mengapa, setiap kamu membaca buku itu, kamu seperti hidup -karena saat ini kamu tidak layak untuk dikatakan hidup-, kamu hanyut dalam setiap sabda baginda ratumu itu. Kamu terbuai, hingga kamu tak sadar, orang itu melihatmu, LAGI.
Orang itu sejenak termenung, menyaksikan sampul bukumu, aku yakin kali ini hipotesisku benar tentangnya. Dia seperti kamu. Iya. Dia juga suka penulis bukumu itu. Salah satu penulis favoritnya, di mana dia memiliki selusin rak buku yang berisikan karya penulis kesukaanmu tadi. Aku yakin, kali ini dia sedang mencari cara. Cara untuk berbicara dengan kamu.
Jam di tanganmu menunjukkan pukul tujuh, satu jam molor dari jadwal keberangkatan. Ini mengapa kamu tak suka naik kendaraan umum. Kamu harus menunggu, tapi kali ini penungguanmu yang mengesankan, bukan? Karena ada dia. Kalian akhirnya berangkat. Tiket yang kamu pesan menunjukkan sebuah kursi busuk yang kamu tak suka, aku mohon, sukailah perjalanan ini. Karena jika kamu tak suka, ceritaku akan selesai. Kamu pun memilih untuk tinggal. Karena ini yang harus kamu lakukan untuk segera datang di tujuan.
Kursi sebelahmu kosong, bolehkah aku duduk di sana? Tidak. Orang itu yang mendudukinya. Gila!!!!! Bahagianya kamu. Aku bisa lihat raut wajahmu. Matamu tersenyum, sekalipun bibirmu tidak. Hatimu jingkrak-jingkrak, sekalipun badanmu tidak, karena jikalau kamu berdiri terantuklah kepalamu oleh atap kendaraan busuk itu.
Orang itu duduk. Duduk biasa. Tidak perlu kamu bayangkan! Seharusnya, kamu lebih tahu daripada aku, karena kamu di sana, dengan orang itu. Namun, karena kamu tak bisa berbahasa, biarkan aku berkarya. Hahahahaha.
Kamu tersenyum. Akhirnya. Benar-benar senyum di bibir, bukan di mata. Kamu bukan orang yang judes seperti yang mereka kira. Bukan orang bacut, yang teman-temanmu katakan. That is only the other you and this is the real you. Kamu yang ramah, sopan, santun, dan bersahaja. Ternyata, orang itu ramah juga. Orang itu membalas senyummu. Aku bisa merasakan detak jantungmu. Jika saja aku menaruh susu di dadamu, niscaya susu itu akan berubah menjadi susu kocok karena kencangnya degup jantungmu.
Kalian bertanya tentang asal dan tujuan kalian. Ternyata, kalian punya satu tujuan yang sama. Bahagianya kamu bisa ditemankan oleh sosok terindah yang kamu puja sejak pagi tadi. Kalian seperti sudah akrab, tetapi kalian baru kenal 5 menit yang lalu.
Orang itu bertanya tentang bukumu. Apakah dirimu juga menyukai penulis kesuakaannya itu? Kamu menjawab ya, singkat, namun akrab. Kalian bicara tentang hidup kalian yang semrawut begini adanya. Kamu yang tak pernah bisa mengetahui apa tujuan hidupmu dan dia yang tak pernah bisa menemukan kedamaian abadi sebelum dia pernah mati suri. Tunggu. Dia pernah mati suri? Pernah.Orang itu berkata bahwa dia menyesal harus kembali ke dunia ini. Di dunia di mana orang itu harus berjuang sendiri tanpa bapak atau ibu, tanpa kekasih -karena kekasihnya yang jadi mati-, tanpa saudara-karena orang itu anak tunggal-, dan tanpa harta warisan -karena ayahnya bukan pensiunan atau hartawan-. Orang itu memilih mencari kedamaian abadi tersebut lewat perjalanan ini. Lewat kamukah? Kamu pasti sudah besar kepala saaat ini, bila aku bercerita padamu sekarang jga
Kamu begitu terpana melihat sorot matanya yang teduh -sudah jarang kamu menemukan mata seperti itu, sepeninggal ayahmu-, terpikat pada tuturnya yang halus dan berbahasa tinggi, dan gesture tubuhnya yang mengingatkanmu pada pelatih tarimu yang galaknya bukan kepayang. Kamu tepana saat orang itu berkata bahwa orang itu akan mencari kedamaian di tujuannya kelak.
Kamu bertanya tenatang macam kedamaian yang orang itu cari. Jawaban orang itu mengesankan dirimu. Senyummu mengembang seperti adonan kue donat yang diberi fermipan. Belum pernah kamu mendengar jawaban seseorang sereligius itu. Kamu seperti menumakan pecahan dirimu yang hilang.
Kalian orang yang sama dalam tujuan. Kalian orang yang sama dalam kehidupan yang serba sulit ini. Kalian orang yang sama dalam cinta. Pacarmu meninggalkanmu sebulan sebelum ijab qabulmu terikrar. Kecelakaan di salah satu tol baru di negaramu telah merenggut seorang anak dari calon ibu mertuamu, teman dari teman-temanmu, dan calon suami darimu. Sedangakan orang itu? Pacarnya juga mati dalam sebuah ekspedisi berbahaya di salah satu gunung tertinggi di negaramu. Pacarnya terjerumus ke jurang, orang itu berusaha menyelamatkan, sayang orang itu tak berhasil. Kepalanya terantuk batang pohon besar yang membuat genggamannnya dengan sang pacar terlepas. Pacarnya mati, ia juga, walaupun mati suri. Begitu penjelasan kalian tentang riwayat percintaan kalian.
Bola matamu dan bola matanya beradu. Bersenyawa dalam panasnya kendaraan busuk itu. Tak tahu mengapa kalian menjadi begini. Karena saat sebelumnya aku harus membersihkan tumpahan susu anakku. Sialan. Aku tertinggal cerita.
Lalu, kalian mengucapkan satu kata yang sama - kata ulang-. Aku tak tahu bahasa mana itu. Cuma kalian berdua yang tahu. Sebuah kata berulang yang singkat, asing, tapi aku pernah dengar. Kata yang juga merupakan nama mantan suamiku yang pertama.
Orang itu berkata bahwa ia pernah bertemu denganmu di kehidupan lalu. Di kehidupan di mana ia dan belahan jiwanya berbahagia. Di kehidupan di amana kejidupan tidak seamburadul sekarang. Di kehidupan di mana kamu adalah belahan jiwanya dan orang itu adalah belahan jiwamu. Di kehidupan di mana orang itu tak perlu jauh-jauh mencari kedamaian karena di sampingmu damainya tercipta. Di kehidupan di mana kamu bisa menikmati indahnya mata teduh, tanpa harus mengunjungi ayahmu di luar negeri. Di kehidupan di mana ada kalian, belum terpisahkan zaman.
Orang itu berkata, "Inikah wujudmu sekarang, My soulmate?"
Mata kalian masih menghunus satu sama lain. Tangannya mengusap air matamu yang meleleh digodok panasnya pertanyaan orang itu dan panasnya kendaraan busuk ini. Tanganmu bergetar, hngga buku terjatuh. Bibir kalian bertemu. Tanganmu meraih punggungnya. Kalian berciuman, lalu berperlukan.
Dengan peluh tak berkesudahan, kamu menjawab, "I really miss you. I've found you. As long as 180゜ you go, we met in the circle."
Orang itu menenmukan kedamainannya. Kedamaian abadinya tanpa perlu menjadi pertapa. Begitu pula kamu. Kamu menemukannya, belahan jiwamu, tujuanmu bangun jam 3 pagi untuk menaiki bus pertama menuju kota di mana (mantan) pacarmu dimakamkan. Kamu tak perlu lagi ke sana, begitupula orang itu. Kalian tertawa. Menyadari sebuah kenyataan bahwa reinkranasi itu ada. Kalian tahu rahasia itu,begitu pula aku yang duduk 1 bangku di belakangmu.

Alhamdulillah
BalasHapus😍
BalasHapusSusu kocok
BalasHapusSek enwk typoo
BalasHapusScreenshot bagian yang typo, kirim ke WA aku ya. Aku juga manusia biasa yang cuma numpang napas di atmosfer. :)
HapusSek enwk typoo
BalasHapusItu senyum apa kue donat ya kak?kok mengembang :v
BalasHapusTak kasih fermipan kemarin.
Hapus