Pages

Mereka yang Butuhnya Saja

Pernakah kamu?
Pernakah kamu didatangi seseorang hanya di saat mereka butuh?
 Atau justru kamu orang itu?



Manusia adalah makhluk sosial yang di kehidupannya memiliki keterkaitan yang kuat satu sama lain. Manusia hidup dengan kebutuhan mereka masing-masing. Kebutuhan yang dinamis, berbeda dari individu satu dengan individu lainnya, kalaupun sama, tak mungkin. Coba saja kamu urut dari A-Z, pasti ada yang beda, walaupun hanya letak titik dan koma. Pernahkah kamu dianggap sebagai "orang butuhnya saja"? Saya pernah. Saya marah, walaupun hanya dalam hati. Terlebih, bila mereka yang bilang itu adalah temanmu sendiri. Rasanya seperti menyesal telah bersama dengan dia sekian lama. Semenyesalnya saya beli barang, dua hari kemudian diskon 50%. Ingin saya bakar toko itu.

Seseorang tidak dapat disimpulkan begitu saja. Pernah melihat buah maja? Perawakannya yang menyerupai buah manis, looked like jeruk bali. Sayangnya, pendapatmu salah. Buah itu pahit luar biasa. Bagaimana tidak? Buah itu yang menjadi cikal-bakal Kerajaan Majapahit. Jelas saja buah itu pahit. Hal itu, seperti manusia, kelihatannya manis, tapi pahit. Menyakitkan. Lidahnya seperti belati beracun, sekali tancap bisa membunuh manusia lain.

Ya. Seperti orang melihat saya. Mereka berpikir, saya datang ketika saya butuh. Padahal, saya tidak merasa begitu. Saya merasa biasa saja. Tapi, mengapa three little words yang menyakitkan tadi harus keluar dari mulut teman saya. Teman saya sendiri. Rasanya ini tidak adil.


Apa tidak adil? Saya memang gak adil. Tidak pantas berbicara seperti itu. Kalau saya bertanya pernahkah mengucapkan that 3 little words? Pernahkah saya? Ya. Saya akan jawab dengan tegas dan lugas. P E R N A H. Cerita singkatnya, sahabat saya datang kepada saya, dia ingin saya untuk menliskan tugas salah satu mata pelajran. Saya tau betul bahwa dia bisa dan mampu untuk mengerjakan itu sendiri, mengapa harus saya. Sontak, keluarlah three little words yang pedasnya mengalahkan rawit. Yang melalangbuanakan perasaan. Memporakporandakan hati yang tertata apik. Dengan nada datar, namun tersirat emosi di dalamnya, sahabat saya menjawab,
“Ya. Gue memang teman yang butuhnya aja. Gak mungkin gue datang ke rumah lu tanpa tujuan. Pasti pas gue datang ke rumah lu, lu pasti tanya tujuan gue ke rumah lu apa. Entah lu atau gue, pasti ada yang butuh satu sama lain. Semua orang akan datang ketika merka butuh. Pikirin!”
Sontak, saya diam. Saya tidak pernah merasa setuju dengan pendapat sahabat saya tadi. Egois saja.

Kami tetap bersabahat speerti biasa. Biasa. Like we used to. That was us. We never get arguing more than 1 hour. Without saying apologize. Without saying bullshit. We could be good again. Hingga, suatu hari suatu hari yang sangat mendung. Saya ingat hari itu hari Rabu, mendung, pertanda langit akan menangis, menangisi apa? Kematiannya. Dia pergi dengan meninggalkan sejuta petuah dalam telinga saya. Tersimpan di long term memory saya. Saya merasakan betul apa yang dia ucap terutama, pada Semua Orang Akan Datang Ketika Mereka Butuh.

Saya punya teman yang lain. Dia memang datang ketika dia butuhnya saja, dia datang ke saya ketika ingin pinjam apa ke saya, minta dianterin, minta diajarkan apa, ditraktirin apa, dll. Pastinya jengkel. Ya. Sekarang saya sudah malas bahas orang. Tidak perlu lagi saya mengatakan three little words yang menyakitkan tadi. Cukup saya melihat diri saya. Bagaimanakah saya? Apakah saya selalu datang kepada teman saya tanpa tujuan, tanpa kebutuhan satu sama lain? Pernahkah saya pulang ke rumah saya bukan karena butuh tempat pulang, tempat tinggal, atau orang tua saya? Pernahkah saya datang ke orang tua saya tanpa tujuan, tanpa embel-embel ingin ini-itu? Pernahkah saya berdoa kepada Tuhan karena saya tidak butuh pertolongan Tuhan? Pernahkan saya? Kepada Tuhan pun saya datang ketika butuhnya saja. Percaya atau tidak. Bagi saya, yang percaya adanya kehidupan setelah kematian, saya datang ke Tuhan karena saya butuh bantuan-Nya, ketika kehidupan itu datang kepada saya.

Intinya. Janganlah kita mengucapkan 3 little words menyakitkan tadi. Coba rasa, bila kalian dikatakan seperti itu,dan lihatlah dirimu! Sesempurna itukah kamu? Saya belum tahu kalian, tapi saya yakin, kalian tidak sempurna. Pada hakikatnya, manusia memang datang ketika mereka butuh. Kepada teman, keluarga, orang tua, relative, sanak saudara, apalah bentuknya, bahkan TUHAN. Jangan heran bila kamu menemukan orang yang butuhnya saja. Itu sudah tabiat manusia. Seperti tabiat singa yang menerkam dan memangsa rusa karena merekabutuh makan. Itu sama nilainya seperti kelemahan manusia yang ini, yaitu butuhnya saja. Sudah jadi hakikat, sulit terlepas, dan kita harus memaklumi. Kemudian, mengakui bahwa diri kita juga seperti itu. Tidak bisa terlepas dari manusia lain, kita makhluk sosial, sekaligus makhluk alam. Kita harus paham sosial, tanpa harus menyingkirkan hukum alam. Paham sosial terhadap saling memahami dan menyadari adanya hukum alam, MANUSIA MEMANG DATANG SAAT MEREKA BUTUH.

2 komentar:

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com