Pages

Filosofi Tol

Saya hidup di kehidupan yang serba salah. Mengapa saya sebut demikian? Salah terus. Begini dianggap salah, begitu malah salah kaprah. Seperti saat ini, saat ini bagaikan era kesalahan bagi saya. Di rumah saja, disangka bolos. Pulang cepat, disangka colut. Pulang sorean sedikit, disangka main melulu. Bahkan, hadir dan bernapas di sini pun salah.

Dahulu, saya berpikir, “Mengapa saya salah, padahal saya sudah benar?” Benar,gundulmu. Saya tidak bisa menilai diri saya. Kalau saya yang menilai saya yang menilai, sudah saya beri A. Seseorang pernah bilang ke saya,”Yang menilai kamu adalah orang lain, bukan kamu sendiri.” Itulah mengapa saya sudah membuang jauh-jauh pertanyaan tadi. Saya rasa saya butuh suatu objek terkuat (versi saya) untuk dijadikan pedoman. Bukan, maksud saya teladan. Bukan juga, mungkin bisa dibilang guru. Ntar, kalau saya bilang nabi, bisa dihajar sejuta umat maya ini.

Saya (bukan) termasuk pemuja tokoh-tokoh besar inspiratif, seperti B.J. Habibie atau Nicola Tesla. Saya lebih suka BJ-tanpa Habibie-(Bang Junot ) dan Nicholas Saputra daripada mereka. Bhaqq. Sama sekali tidak bermanfaat untuk membahas Bang Junot di sini. Saya juga (bukan) termasuk pemuja tokoh-tokoh imajinatif seperti, Cinderella atau pun Snow White. Menurut saya, hidup tidak harus seperti gumebyaring klambine Princess.

Saya lebih suka jalan tol. Ya. Tol. Memang aneh, tapi saya berkata jujur. Alasan rasa cinta saya pada tol, saya ungkapkan di sini. Cinta yang belum -akan saya sampaikan di kesempatan kali ini- pernah terucap. Cinta yang hanya membuat saya terbisukan oleh kenyamanannya. Cinta yang tak bisa saya definisikan dengan bahasa manusia atau serigala. Cinta tak terjemahkan oleh segala kamus dari mancanegara. Saya suka tol karena kebebasan dan kedamaiannya. Itu saja. Maksudnya saya, dengan segala sub bab-sub bab penjelasannya.


Saya suka bebas, saya tidak pernah suka untuk dikekang. Diatur. Namun,saya makhluk sosial yang terikat utang dan undang-undang. Aturan selalu mengiringi kehidupan saya, seperti nada dan puisi di pagelaran opera. Saya suka tol, karena dia bebas hambatan. Dia disukai semua orang karena dia bebas macet. Saya ingin jadi tol, karena kehadiran saya tidak membuat orang naik pitam dan marah. Tidak bikin pusing kepanasan, karena cukup kamu buka jendelamu, kamu sudah terasupi oksigen yang cukup.

Saya suka tol karena dia kuat. Kuat yang sekuat-kuatnya. Proses pembebasan tanah yang berbelit, seperti halnya proses pernikahan ayah-ibumu dengan berbagai tetek bengek yang harus terpenuhi untuk sesuatu itu bisa hadir. Apakah sesuatu itu? Kamu. Demi kehadiranmu, mereka jabanin segala tetek-bengek tadi. Seperti, tol yang dibebaskan. Setelah terbebaskan kepemilikannya, tol harus dicor dengan semen agar kuat.lalu, dilapisi aspal goreng yang kuat dan memeberikan kesan dan efek halus yang menyamankan pengendara yang melaju di atasnya. Tol mengajarkan saya untuk menghargai sebuah proses terbebasnya sesuatu. Tol pula yang mengajarkan saya  hati yang yang kuat menimbulkan jiwa yang halus. Kekuatan dan kehalusan yang seharusnya berdiferensiasi malah berasosiasi jadi satu.

Saya suka tol karena dia  menyenangkan. Siapa yang tak suka lewat tol? Bebas hambatan, jalan halus, angin sepoi-sepoi, dan kenangan. Tak tahu mengapa, setiap saya lewat tol, saya seperti kembali di masa lalu saya yang menyenangkan dan tanpa dosa. Terlebih bila perjalanan itu diiringi lagu melankolis, rasanya cukup melihat bahu jalan di sisi kiri sambil melamun sudah menyenangkan hati saya. Sumpah. Yang ini dangdut banget.

Saya suka tol karena dia lurus. Mayoritas memang lurus, meskipun ada yang belok. Saya belajar dari tol untuk berjalan lurus di kebenaran yang aman, tidak berbahaya. Lurus dalam berpikir  tanpa adanya manik-manik kepeningan bila kita melaju di atasnya. Dengan tol, saya belajar untuk tetap menjaga kecepatan, meskipun itu lurus. Karena kita tak akan tahu apa yang terjadi di depan. Meskipun, kita sering melewati jalan itu, jalan itu tak akan pernah sama, seperti yang telah berlalu.

Saya suka tol karena tol memberi pilihan. Tol memberikan kita banyak petunjuk. Di kilometer berpakah kamu atau mau kemana kamu. Kamu diberi pilihan untuk ke sana, kemari, atau berhenti. Kamu hanya perlu melihat tanda lalu-lintas di sisi kirimu, atasmu, bahkan sisi kananmu. Kamu hanya perlu memilih laju mana yang sesuai dengan kebutuhan dan kemauanmu. Kamu diberi pilihan untuk lanjut atau berhenti sejenak di rest area.Kamu bisa memilih di sana. Saya ingin hidup seperti itu. Saya ingin, saya diberi petunjuk manakah jalan yang seharusnya saya lewati, bila saya ingin ke suatu tujuan. Saya juga ingin diberi suatu tempat nyaman untuk istirahat sejenak dari segala bentuk perjalanan hidup. Dalam bentuk apapun itu saya tidak perduli. Yang penting saya bisa rebahan di sana.

Saya suka tol karena dia mahal. Dia tidak murahan. Segala proses demi adanya sebuah jalan bernama tol tidaklah semudah membalikkan tangan, atau membuang ingus. Kamu perlu membayar untuk tahu dan menikmati indahnya tol. Tol mengajarkan saya untuk tidak dengan mudahnya mengumbar keindahan diri kita.  Cukup kita dan orang terdekat saja yang berhak untuk itu. Mengapa? Karena mereka mampu membayar.

Saya suka tol karena dia sombong. Mengapa? Dia hanya menerima yang beroda 4 ke atas. Dia punya skala prioritas tersendiri. Dia mempunyai kriteria khusus dalam mempersembahkan dirinya untuk dijajal. Seharusnya, kita juga seperti itu. Bukan berarti kita harus berteman dengan yang kaya. Maksudnya, kita harus bisa memberi kriteria khusus bagi mereka yang akan mengisi kehidupan kita kelak. Untuk apa? Untuk kesenangan, kenyamanan,dan keselamatan bersama. Mengapa tol begitu kejam? Saya rasa karena tol identik dengan bebas hambatan, semua orang suka memacu lebih kencang kendaraannya, motor pasti akan kewalahan bila dihadapakan dengan kendaraan-kendaraan besar lainnya. Bijaksana, bukan?

Menurut saya, tol memberi definisi lebih tentang hidup. Tol mengajarkan banyak hal yang berharga dan mengena di kehidupan saya yang serba salah. Saya harus kuat dalam mengahadapi segala. Meskipun pada akhirnya harus menyerah, tempat kembali tetaplah Tuhan Yang Maha Esa.


-Jadilah tol yang kuat, halus, lurus, tapi pemilih-

9 komentar:

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com